Daya Angon

sumber: favin.com

Selasa minggu lalu, 3 orang teman dari Maiyah Malang datang ke rumah. Entah kenapa, anak sulungku yang biasanya kalo ada tamu dia suka sembunyi, namun kali ini dia malah tak mau diusir, inginnya terus di ruang tamu bersama kami.

Akhirnya kami ngobrol tentang anak-anak. Mulai sekolahnya hingga tantangan-tantangan dalam menemani anak. Saya jadi pihak yang sok tahu, lantaran tiga tamu ini semua jomblo.

Agak malam Cak Dil datang. Anakku juga tak kunjung mau beranjak dari ruang tamu meskipun malam sudah larut. Biasaya dia sudah terlelap pada jam segitu.

Cak Dil pun ternyata juga membahas tentang pendidikan anak. Baik mengenai pendidikan mereka di sekolah resmi hingga tentang bagaimana orang tua dalam memperlakukan anak.

Pagi harinya, di group Whatsapp keluarga ada yang membagikan sebuah file yang berisi rekaman Mbah Nun di album “Menyorong Rembulan”, tepatnya pada bagian “Renungan Ilir-ilir”.

Jelas ini bukan pertama kali saya mendengarnya. Mungkin sudah ratusan kali dengar sejak sepuluh tahun lalu. Namun tiba-tiba kali ini saya terfokus pada kata-kata Simbah mengenai “Bocah Angon”.

“Kanjeng Sunan (Ampel) tidak memilih figur misalnya pak jendral, juga bukan intelektual-intelektual, ulama-ulama, sastrawan-sastrawan atau seniman-seniman atau apapun, tapi cah angon. Beliau juga menuturkan penekno blimbing kuwih, bukan penekno pelem kuwih, bukan penekno sawuh kuwih, juga bukan buah yang lain tetapi blimbing bergigir lima. Terserah apa tafsirmu mengenai lima, yang jelas harus ada yang memanjat pohon yang licin itu. Lunyu-lunyu penekno agar belimbing bisa kita capai bersama-sama. Dan yang harus memanjat adalah bocah angon, anak gembala. Tentu saja boleh siapa saja, ia boleh seorang doktor, boleh seorang seniman, boleh seorang kyai, boleh seorang jenderal atau siapapun. Tapi dia harus mempunyai daya angon, daya untuk menggembalakan, kesanggupan untuk ngemong siapa pun, karakter untuk merangkul dan memesrai siapa saja sesama saudara sebangsa. Determinasi yang menciptakan garis resultan kedamaian bersama, pemancar kasih sayang dibutuhkan dan diterima semua warna, semua golongan dan semua kecenderungan. Bocah angon adalah seorang pemimpin nasional bukan tokoh golongan atau pemuka suatu gerombolan. Selicin apapun pohon-pohon tinggi reformasi ini sang bocah angon harus memanjatnya harus dipanjat sampai selamat memperoleh buahnya bukan ditebang, dirobohkan atau diperebutkan dan air sari pati belimbing lima gigir itu diperlukan bangsa ini untuk mencuci pakaian nasionalnya.”

Mungkin pada pernyataan itu punya grafitasi pada keadaan politik atau kehidupan berbangsa. Akan tetapi saya menariknya pada sesuatu yang lebih kecil lagi, yakni hubungan anak dan orang tua. Bapak atau ibu sejatinya adalah pihak yang dituntut memiliki “Daya Angon”.

Hari kamis, saya punya kesempatan untuk menghadiri kajian Mbah Fuad di jalan Semeru, Malang. Meski terlambat datang, saya masih bisa memetik beberapa hal. Allah menempatkan pada situasi yang ternyata masih selaras dengan apa yang saya alami beberapa hari sebelumnya, Mbah Fuad membahas tentang mendidik anak. Kajian mengenai surat Al-Lukman.

Malamnya, seorang teman mengajak untuk ngopi selepas main badminton. Di kedai kopi itu, teman juga membicarakan soal anaknya. Tentang sekolah, mengenai karakter yang berbeda dari dua anaknya dan lain-lain.

Saya dalam beberapa hari di tempatkan pada ruang dan waktu yang membahas soal mendidik anak. Angon.

***

Daya angon. Kemampuan menjadi orang tua yang baik. Tentang bagaimana bapak menghadapi problem-problem bocah yang dititipkan Tuhan kepadanya. Soal bagaimana mengidentifikasi ego orang tua terhadap jalan hidup anaknya.

Daya angon juga mengenai kemapuan lembaga pendidikan yang disediakan negara membentuk pribadi anak-anak. Tentang kemampuan sekolah-sekolah untuk menemani murid-muridnya menemukan passion mereka masing-masing.

Dika, salah satu tamu saya malam itu bilang bahwa 12 tahun dia sekolah, dirinya gagal menemukan passion-nya.

Apakah yang bertanggungjawab untuk membimbing anak mengenali potensi dirinya itu hanya sekolah? Bukankah ada orang tua, lingkungan masyarakat dan juga anak itu sendiri?

Jangankan soal pendidikan karakter dan lain sebagainya itu. Banyak hal-hal kecil saja, antara sekolah, orang tua siswa, dan lingkungan tidak selaras satu dengan yang lainnya.

Di Taman Kanak-Kanak gurunya mengajari taat aturan negara, misalnya memakai helm saat mengendari sepeda motor, tetapi bapaknya waktu mengantarnya ke sekolah tak pernah pakai helm. Sepanjang jalan, tiap pagi dia melihat banyak pengendara sepeda motor tak gunakan pelindung kepala itu. Ia juga mendapati polisi yang mentolelir pengguna jalan yang tak berhelm.

Coba bayangkan bagaimana saling sengkarut informasi yang masuk otak anak kecil itu. Satu sama lain saling bertolak belakang. Ia mendapati bahwa segala teori yang diuar oleh gurunya disekolah hanya sebuah terori yang utopis, sebab fakta di dunia nyata tak sejalan dengan teori yang disodorkan padanya.

Hal sederhana saja ada ketidakseimbangan antar elemen. Apalagi untuk sesuatu yang lebih besar dan njelimet seperti soal menemukan potensi diri setiap anak.

Semua pihak mestinya punya daya angon, kemampuan untuk menggebalakan anak hingga anak tersebut bertemu dengan potensinya, selanjutnya adalah menajamkannya. Perlu adanya rembug dan kesadaran bersama mengenai hal ini. Susah rasanya jika jalan sendiri-sendiri, hampir mustahil ketika saling menyalahkan satu sama lain.

Angon menurut saya adalah teknik memiara tanpa banyak kekangan. Menggembalakan bukan menaruh hewan ternak di kendang sempit dan kemudian disodori rumput. Angon adalah membiarkan sapi atau kambing di padang rumput, membebaskan hewan-hewan itu memakan rumput yang mereka sukai. Berinteraksi secara bebas. Bocah angon hanya menjaga agar sapi tidak keluar batas sekaligus melindungi peliaraanya itu dari bahaya-bahaya luar atau gesekan di dalam.

Angon adalah menemani, bukan mencekoki. Angon adalah memberikan peluang-peluang, bukan memilihkan. Angon adalah mendidik mereka menemukan batasnya sendiri tanpa perlu membangun pagar-pagar berduri. Angon adalah karakter untuk memesrai semuanya, bukan menempatkan peliharaanya pada medan kompetisi. Angon adalah cahaya untuk menerangi jalan yang bakal ditempuh siapapun saja yang dirawatnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here