Alhamdulillah, Mereka Kini Maklum pada Ibu Pembawa Anjing ke Masjid

Saat mendengar ada bom di Gereja di Surabaya beberapa waktu lalu, seketika saya mengumpat. Sedih, prihatin sekaligus marah. Semakin mendidih lagi, selepas berita meledak saya mendengar pelakunya membawa anak-anaknya yang masih belia.

Saya membiarkan perasaan marah saya itu, meluapkannya. Rasanya perlu juga sebagai manusia normal untuk berlaku reaktif atas peristiwa-peristiwa yang dilihatnya. Namun biasanya tak berlangsung lama, sebab setelahnya saya berusaha mencari sudut pandang lain.

Selanjutnya, yang memenuhi kepala saya adalah tentang betapa kuatnya doktrin atau apapun itu yang ditempakan kepada ibu tersebut. Bisa dibayangkan, kegilaan model apa yang membuat dia rela mengajak anak meledakan diri? Hampir pasti bukan lahir dari ibu itu sendiri.

Tarik saja ke belakang sejauh mungkin yang bisa mempengaruhi seorang wanita mengorbankan darah dagingnya. Bisa dari pengaruh suami, dimana suaminya juga terpapar oleh lingkungan pergaulannya. Lingkungan pergaulannya pun tidak berdiri sendiri, ada rangkaian-rangkain lain yang kemudian menciptakannya.

Ibu itu adalah jahat. Namun kenapa bisa jahat? Sampai di titik sejauh mana kita menarik segala kemungkinannya.

Tentu bukan bertujuan memaklumi atau membenarkan pengebom, akan tetapi mencoba memahami situasi batin itu perlu juga. Entah fungsinya untuk apa? Yang pasti, agar saya tidak berhenti pada sikap reaktif terhadap peristiwa keji tersebut.

Ini cara saya untuk mengambil sudut pandang yang lebih lebar terhadap sebuah persoalan. Semakin lebar sudut maka semakin luas juga spektrum informasi yang bakal dipakai untuk memahami persoalan tersebut.

Reaktif adalah kewajaran, namun berkutat pada emosi tersebut adalah ketololan. Itu bagi saya.

—–

Suatu waktu ada teman saya jadi sorotan, lumayan viral di media sosial. Dibahas di sebuah portal berita ternama saat itu. Ia di-bully habis-habisan karena postingannya di media sosial. Unggahan itu dianggap melecehkan pejabat negara.

Mereka yang melakukan perundungan tersebut tidak tahu bahwa teman saya tersebut penderita skizofrenia. Tidak mencari tahu latarbelakangnya, cukup pada sikap reaktifnya, yakni mencaci maki.

Hampir tidak ada yang membela teman saya ini. Warganet hanya mengambil fakta bahwa dia memposting sesuatu yang dianggapnya tak pantas. Itu dinilainya sudah cukup membuat mereka punya hak untuk mencemooh dan menghardik.

Tetapi saya patut bersyukur sekarang. Belakangan saya melihat orang-orang yang dulu sekelompok dengan yang mem-bully teman saya itu sepertinya sudah berlaku cukup bijak. Mereka kini sudah bisa meminta kita semua memaklumi ibu yang membawa anjing ke Masjid.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here