Anjing dan Cara berfikirku yang Menjijikkan

sumber: FB Marlo Siswahyu

Beberapa hari lalu saya tertarik dengan postingan teman saya yang tinggal di Jepang, Pak Marlo. Beliau mengunggah foto papan peringatan yang menurutnya berada di sebuah pintu masuk sebuah klinik. Pada foto terdapat sebuah peringatan berupa gambar dan tulisan, di mana meski kita tak paham Bahasa Jepang pun akan paham bahwa ada larangan untuk membawa anjing masuk.

Peringatan seperti ini sudah sangat lazim saya lihat, terutama saat tinggal di Jepang. Ada beberapa tempat yang tidak mengijinkan pengunjungnya membawa hewan peliharaan.

Wisatawan yang akan berkunjung ke Pura Luhur Uluwatu, Bali biasanya akan diminta untuk mengenakan Salempot. Salempot adalah kain selendang yang akan diberikan seorang petugas kepada pengunjung (wisatawan) yang mengenakan celana pendek.

Salempot sendiri konon dimaknai sebagai simbol penghormatan terhadap kesucian pura, serta mengandung makna sebagai pengikat niat-niat buruk dalam jiwa. Itu aturan pertama yang harus dipatuhi.

Saya pernah harus antri cukup panjang ketika ke tempat wisata pemandian di Malang, Jawa Timur. Setelah saya cek, ternyata antrian panjang tersebut karena petugas pintu masuk harus melakukan pemeriksaan isi tas para pengunjung. Memang ada aturan masuk tempat itu tidak boleh membawa makanan dan minuman.

Sejujurnya saya kesal. Saya bisa memahami kenapa tidak boleh bawa makanan dan minuman, itu adalah bagian dari strategi bisnis mereka. Pengelola tempat wisata tersebut pasti berharap pengunjung membeli makanan saat di dalam, bukan membawa dari luar. Akan tetapi, bagi saya isi tas adalah privasi. Apa yang kemudian membuat mereka merasa punya hak untuk menyentuh wilayah-wilayah yang sebenarnya privasi?

Lagi-lagi ini adalah aturan yang sudah secara langsung atau tidak langsung disetujui oleh pengunjung. Pilihannya adalah take it or leave it, jika tidak suka maka jangan ke tempat wisata itu.

Soal privasi macam ini juga bisa karena alasan keamanan. Misal di bandara atau tempat-tempat sensitif lainnya. Akan ada pihak yang memeriksa hampir seluruh benda yang kita bawa. Koper, jaket, dan lain-lain tidak luput dari pemeriksaan.

—-

Banyak tempat punya aturan-aturan tertentu. Alasannya bisa sangat banyak, bisa karena keamanan, motif ekonomi, kesehatan, kenyamanan dan lain sebagainya. Pada dasarnya ada faktor nilai lain yang mendasari sebuah larangan.

Apakah hanya karena ada larangan anjing dilarang masuk ke klinik itu artinya pemilik klinik benci pada anjing? Apakah cara berfikirnya selinier itu, hanya karena mewajibkan pengunjung memakai selendang, artinya pengelola Pura mencampuri urusan fasion para pengunjung? Apakah jika ke bandara lantas kita kategorikan pemeriksaan barang-barang kita sebagai upaya melanggar privasi kita?

Bahkan ketika pemilik wisata yang menerapkan aturan memeriksa isi tas kita pun sebenarnya masih bisa kita pilih untuk tidak ke sana, bukan?

Sungguh bodoh jika saya lantas menarik kesimpulan bahwa pemilik klinik telah melecehkan makhluk ciptaan Tuhan hanya gara-gara melarang pengunjung masuk. Sungguh tolol ketika saya harus melabeli petugas Pura sebagai orang yang tidak menghormati pakaian saya hanya karena mereka meminta memakaikan Salempot.

Cara berfikir saya sudah dalam kategori menjijikkan jika ternyata lebih fokus kepada anjing dan Salempot sebagai benda, tidak pada nilai-nilai lain yang bisa membuat kenapa ada larangan dan kewajiban tersebut. Dungu benar saya jika tidak bisa menemukan alasan untuk maklum dan bahkan setuju dengan larangan atau kewajiban tertentu terhadap seseorang sebelum ke sebuah tempat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here