Nahla Lulus Pendidikan Antre, Saya Tidak!

Senin, (12/8/2019) kami sekeluarga melakukan perjalanan dari Lamongan ke Malang lewat Tol Sumo (Surabaya – Malang). Kami memang menyukai perjalanan luar kota pada subuh atau tengah malam, agar lebih lancar saja, kecil kemungkinan terkena macet. Pun dengan hari itu, kami bertolak dari rumah sesaat setelah sholat subuh.

Saat berangkat, Nahla masih terlelap sehingga perlu saya gendong dari kamar ke mobil. Ia belum sempat sholat subuh.

Di tol saya belokkan mobil ke rest area km 725. Saat itu sudah pukul 05:00. Saya harus berhenti agar Nahla bisa sholat dan saya sendiri perlu beli kopi.

Setelah antar Nahla ke Musholah, saya langsung ke minimarket untuk memesan kopi. Di minimarket  tersebut ternyata ada konter khusus yang jualan kopi, saya lupa namanya.

Setelah usai kopi saya dibuat, Nahla masuk minimarket dan merengek minta dibelikan sesuatu. Saya ijinkan membeli sesuatu dan memberikan dia uang. “Beli sendiri, ya”.

Ia lantas memilih satu bungkun makanan ringan dan kemudian menuju kasir. Saya perhatikan dia antre di belakang dua orang berbaju TNI. Karena merasa akan cepat sebab hanya antre dua orang di depannya, saya keluar minimarket untuk segera menyeruput kopi.

Sengaja Nahla saya biarkan bertransaksi sendiri. Ini bagian dari upaya kami menghilangkan rasa tidak percaya dirinya. Selama ini dia cenderung tertutup dan takut untuk berkomunikasi dengan orang lain.

Saya masuk mobil yang kebetulan parkir tepat di depan pintu minimarket tersebut. Menunggu Nahla sembari sedikit mencicipi panasnya kopi.

Tetapi muncul rasa gelisah sebab sudah lebih dari tiga menit setelah dua tentara keluar minimarket, Nahla belum juga muncul. Bernajaklah saya dari tempat duduk untuk mengintip ke minimarket.

Nahla ternyata pindah ke kasir sebelahnya, di belakang seseorang yang tengah transaksi top-up kartu e-toll. Saya mendekat karena akan giliran anak sulungku itu. Namun belum sampe saya ke dekat Nahla, kasir memberi giliran orang di belakang Nahla. Saya percepat langkah dan protes “Kenapa bukan dia (Nahla) yang kamu layani?”

Kasirnya dengan enteng bilang jika untuk transaksi pembelian barang di kasir sebelah.

“Hei! Anak saya ini dari tadi sudah di kasir yang sana, tetapi dia kemudian ke sini. Pasti ada yang menyuruh.”

Kasir hanya diam. Pembeli lain mulai memperhatikan saya.

Bungkus makanan ringan saya ambil dari tangan Nahla dan saya taruh dengan sedikit melempar ke meja kasir. “Kalian ngurusi antrean saja tidak becus!” bentakku sambil mengajak Nahla keluar. Kita membeli makanan di kedai sebelahnya.

Ketika awal masuk SD, Nahla selalu dibekali ibunya sekotak makanan untuk dia makan ketika istirahat. Namun beberapa minggu kemudia dia protes. Nahla ingin seperti temannya yang lain, ketika istirahat beli makanan di kantin sekolah.

Dengan perasaan agak khawatir, saya memberinya uang saku. Kekhawatiran saya lebih pada dia belum tahu nilai uang. Bagaimana bertransaksi jika dia tidak tahu berapa nilai lembaran uang yang dipegangnya.

Namun anehnya, saat sudah dikasih uang saku dia malah tidak pernah beli di kantin sekolah. Ia membelinya saat pulang sekolah, ketika saya jemput. Ia hanya ke parkiran menaruh tas dalam mobil lantas minta izin ke kantin. Hampir setiap hari. Hingga akhirnya dia tak mau jika diberi uang saku saat pergi sekolah, ia hanya minta uang saat dijemput saja.

Telisih punya telisik, belakangan saya baru memahami kenapa Nahla tidak ke kantin saat istirahat. Perlu lebih dari setahun untuk mengetahui kenapa Nahla memilih beli makanan saat pulang sekolah dibandingkan ketika waktu istirahat.

Ketika jam istirahat, kantin berjubel anak-anak untuk membeli makanan. Antrean membeli sedikit tidak beraturan. Puluhan anak SD dengan segala keriuahannya tengah membeli makanan kesukaanya. Masing-masing dari mereka juga terpacu untuk bisa lebih cepat lantaran waktu istirahat tak lama. Jangan sampai belum sempat makan, jam istirahat sudah habis dan mereka harus balik ke ruang kelas.

Nahla dengan segala pemahamannya mengenai antre tidak bisa beradaptasi dengan kondisi tersebut. “Nanti waktunya habis, yah,” katanya.

—-

Dua setengah tahun kita sudah meninggalkan Jepang, dari banyak pelajaran yang diterima Nahla saat sekolah TK di sana, setidaknya ada dua hal yang masih belum hilang dari dirinya. Pertama membuang sampah pada tempatnya, dan yang kedua adalah mengenai antre.

Sejujurnya saya bingung, apakah saya mesti bangga atau malah harus khawatir dengan “ketidakmampuan” Nahla dalam beradaptasi dengan kebiasaan bersaing di jalur antrean. Ia tertib namun belum bisa memompa keberaniannya ketika ada yang mendzaliminya. Bahkan saya curiga bukan karena takut, dia masih kebingungan untuk menemukan bentuk kebiasaan lingkungannya.

Misal ketika saya protes di minimarket karena dia diserobot, Nahla malah bingung. “Kenapa tidak jadi beli, yah?” tanyanya dengan nada bingung.

Ia berpikir bahwa antrean tidak sekedar fisiknya berada di jalur antrean, tetapi ada hak mutlak pada orang yang melayaninya. Nahla merasa bukan gilirannya jika tidak dipersilahkan oleh kasir. Tentu ini akan runyam jika bertemu dengan peyalan minimarket yang tak becus. Nahla tidak pernah punya niatan untuk agresif agar dirinya yang segera mendapat giliran. Tentu saja ini mungkin dipengaruhi juga oleh sifatnya yang memang cenderung pendiam.

Atau jangan-jangan saya yang ngedumel dan marah ini yang sejatinya tidak memahami arti antre yang sesungguhnya. Nahla lulus, sebab antre yang membentuk hatinya jadi sabar. Ah, embuh!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here