Apa Hanya Demonstran yang Bisa Ditunggangi?

sumber: reaktor.co.id

Gelombang demontrasi bergulir sejak beberapa hari yang lalu. Mahasiswa di sejumlah kota melakukan aksi unjuk rasa. Suasana politik dalam negeri cukup meneganggkan. Semua itu pematiknya adalah beberapa RUU yang dianggap bermasalah.

Saya tidak akan masuk terlalu dalam ke soal RUU yang tengah diributkan tersebut. Saya lebih tertarik pada isu-isu di luar itu semua. Yakni tentang opini-opini terbangun atas aksi-aksi demontrasi yang menurut saya cukup besar, mungkin paling besar semenjak 1998.

Mahasiswa-mahasiswa yang tengah berdemo ini dipojokkan dengan adanya isu bahwa demonstrasi tersebut ditunggangi. Ada kepentingan lain yang memanfaatkan situasi ini.

Narasi-narasi mengenai adanya penumpang gelap dalam geliatnya aksi besar-besaran ini begitu masif dilemparkan oleh sekelompok masyarakat. Saya sendiri melihat beberapa teman menyuarakan hal tersebut, baik saat ngobrol langsung atau lewat tulisan mereka di media sosial. Bahwa demonstrasi ini ditunggangi.

Menurut saya, sangat mungkin aksi unjuk rasa sebesar ini ditunggangi kepentingan tertentu. Potensi tersebut memang cukup terbuka. Hampir semua aksi-aksi demonstrasi itu memang punya peluang dimanfaatkan oleh kekuatan atau kepentingan tertentu. Tetapi saya cukup percaya jika pengagas atau minimal koordinator aksi punya kesadaran mengenai peluang dimanfaatkan. Oleh sebab itu, rata-rata demonstran sudah memiliki kewaspadaan dalam dirinya mengenai penumpang gelap.

Apakah demonstran saja yang punya peluang ditunggani? Tidak! Mereka yang saat ini sinis dan menuding aksi kali ini ditunggangi, juga punya peluang ditunggangi. Benarkah opini-opini yang mereka lemparkan itu tidak ditunggangi oleh kepentingan tertentu?

Jangan sampai opini negatif terhadap para demonstran yang selama ini mereka lemparkan ternyata berasal dari sebuah desain tertentu. Artinya, segala kesinisan tersebut sejatinya telah ditunggangi.

Berdasarkan pengalaman saya, demonstran sudah punya kepekaan dan kesadaran bahwa mereka punya peluang untuk ditunggangi, sehingga mereka waspada. Namun bagaimana dengan yang saat ini mengkritisi demonstran? Apakah sudah terlatih kesadaran dirinya? Bahwa apa yang mereka utarakan tersebut juga punya potensi ditunggangi.

Beberapa hari lalu seorang teman, dia mahasiswa, bertanya kepada saya, apakah dia harus turun demonstrasi?

“Yang terpenting adalah jangan larut dalam pusaran. Jadilah batu yang tetap wungkul. Pelihara kedaulatan diri,” begitu kira-kira jawabanku.

Kata kuncinya adalah kedaulatan diri. Mau berada di kubu demonstran atau yang berseberangan bukan sebuah soal selama melakukan itu semua berasal dari kedaulatan diri. Mau berada di barisan demonstran atau yang tidak, akan kecil kemungkinan ditunggangi jika terjaga kewaspadaan. Kewaspadaan tersebut tumbuh dari kedaulatan diri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here