Tahlilan Sebagai Pagar Sikap

Dulu, ketika masih punya waktu melayani debat dengan teman-teman yang menganggap tahlilan adalah bid’ah, saya punya sebuah argumen yang cukup saya senangi.

Saya mengambil keputusan untuk mempercayai do’a tetangga dan orang banyak bisa menolong saya ketika nanti mati. Saya tidak sampai menggunakan pendekatan ayat di Alquran ataupun Hadist. Bagi saya, salah satu fungsi percaya do’a tetangga bisa berpengaruh saat saya meninggal adalah timbulnya kewaspadaan selama hidup. Saya akan terdorong untuk berbuat baik kepada tetangga atau masyarakat umum lainnya. Sebab, saya ingin ketika mati mereka berdo’a baik untuk saya, bukan sebaliknya.

Pemahaman itu sendiri timbul karena saya pernah mengalami sebuah pengalaman yang cukup berkesan. Ketika itu, kami semua berkumpul di sebuah gedung kuliah. Bukan jam dan hari yang lazim untuk kuliah, akan tetapi yang meminta masuk kuliah bukan dosen yang sembarangan, maka kami semua tak bisa menolak.

Hingga suatu saat, salah satu dari kita berteriak. “Kuliah batal, Pak Dosen sedang sakit,” ia mengatakan dengan muka yang berseri sembari menatap layar ponsel. Ia mendapat SMS dari dosen tersebut.

Hampir dari semua mahasiswa yang ada di sana menampilkan ekspresi senang. Bahkan cukup banyak yang mengucap Alhamdulillah.

“Seumur hidup, baru kali ini saya mendapati ada orang sakit, tetapi orang lain malah bilang alhamdulillah,” kata seorang senior yang duduk di samping saya.

Saya memahami maksud dari kalimat tersebut. Bukan mengkhawatirkan sikap mahasiswa yang tak simpatik, namun jauh lebih luas lagi, yakni kenapa mereka sampai hati berbuat demikian?

Ini bukan pembenaran terhadap orang yang bersyukur mendengar orang lain kena musibah. Hal tersebut adalah sisi lain yang nantinya perlu dibahas lagi. Pelajaran besarnya bukan soalan itu, akan tetapi tentang perilaku apa yang mereka terima sehingga kompak berbuat sedemikian rupa?

Minimal ini menjadi pagar dalam hidup saya setelahnya, bahwa jikapun kita tidak bisa membuat orang lain ikhlas berdo’a baik kepada kita, minimal jangan sampai mereka berdo’a buruk atau bersuka ketika kita dapat masalah.

Percaya bahwa orang yang meninggal mendapatkan faedah dari mereka yang ikhlas tahlilan membuat seseorang terjaga sikapnya saat masih hidup. Ia tidak dzolim kepada tetangga, bersikap adil kepada masyarakat dan perbuatan baik lainnya, dengan harapan ketika mati nanti tak ada yang berdo’a buruk.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here