Lazim

Kepada Sahabatku: Santi.

Hari ini akan aku ceritakan perjalanan panjangku. Pengembaraan menuju kepastian, paling tidak langkahku ini adalah bentuk dari usaha mencari jawaban yang selama ini hanya berupa harapan-harapan. Bukan kah sebelumnya aku telah menceritakan kepadamu tentang perempuan itu? Perempuan yang akhir-akhir ini telah menyulut harapan demi harapan. Menawarkan masa depan, menjanjikan kehidupan manusia normal. Perempuan yang seakan-akan menjadi pahlawan dikehidupanku –yang menurut manusia normal— adalah kehidupan khayal.

San, kita yang telah bersama-sama belajar membangun dunia esensi, menciptakan kehidupan dengan dimensi sendiri, telah dianggap edan oleh kelaziman. Kita ini tidak lazim bagi mereka. “Kamu mabok, kamu menipu dirimu sendiri” begitu kata mereka kepadaku. Perempuan itu juga pernah berkata seperti itu kepadaku, hingka sempat kita saling beradu kata. Suasana pun sempat memanas. Meskipun aku dan perempuan itu punya dunia berbeda, namun aku tak pernah bisa untuk menjauh darinya. Perempuan itu berada di dunia kelaziman dan aku –seperti juga engkau- hidup di dunia yang tak lazim.

Ya, aku ternyata tak bisa menjauh. Bahkan aku mencoba untuk semakin mendekatinya. Dan hari itu aku memutuskan untuk menghapus jarak. Melangkah, dan melangkah. Semoga engkau tak bosan mendengar kisahku ini, San.

Kusiapkan bekal seadanya, hanya beberapa lembar baju dan celana. Pagi buta aku menuju bandara Djuanda. Memilih penerbangan pertama menuju Kendari. San, Ternyata aku masih bumi yang sama. Katulistiwa yang penuh dosa. Di Kendari, matahari sama membakarnya seperti di Surabaya. Di tengah gerahnya badanku, aku mencari informasi tentang alat transportasi menuju pelabuhan. Hanya Taksi, yang pastinya mahal. Ada alternatif lain, ojek. Namun, dari cara mereka menawarkan jasanya aku langsung curiga. Memasang tarif seenak perutnya. Sepertinya mereka tahu kalau aku ini orang baru dan mereka mencoba menipu. Sakit. Bahkan di kota kecil ini, penyakit tipu menipu juga sudah ada. Selama ini, hanya kota besar seperti Surabaya, Jakarta atau Makassar saja yang dianggap masalah kehidupannya sangat kompleks yang memonopoli kejahatan-kejahatan kacangan seperti itu. Wabah itu sudah sampai disini San, di sebuah kota yang mall saja tidak ada. Dan itulah yang mereka bilang lazim, kamu dan aku yang mempertanyakan hal itu dibilang tidak lazim.

Akhirnya aku memilih Taksi. Perjalanan ternyata lumayan lama, aku coba istirahatkan badanku yang aku rasa sangat lelah. Semalam aku hampir tak bisa tidur, aku diganggu oleh lintasan-lintasan pikir tentang perjalananku ini.

Ternyata aku masih ketiban sial hari ini, San. Taksi yang aku tumpangi tak mampu mengejar waktu. Kapal menuju Pulau Buton sudah berangkat dua puluh menit sebelum aku sampai. Hotel. Aku pilih hotel murahan, entah apa bisa ini disebut hotel?. Tarifnya semalam hanya Rp. 30.000. Semalam sudah cukup, sesuai jadwal, besok pagi ada kapal menuju Buton.

Malam minggu. Seperti di kota-kota lain, biasanya akhir pekan di tempat-tempat tertentu ada keramaian. Kepingin rasanya aku menjoba menjelajah kota ini.

“Malem minggu gini, yang ramai dimana mas?” tanyaku kepada resepsionis hotel.
“Di Kebi, mas. Naik pete-pete saja dari depan sana” kata pemuda itu sambil menujuk keluar hotel, “Lima menit juga sampai” lanjutnya.

Sampailah aku ditempat yang dimaksud pemuda di hotel tadi. Ternyata hanya sebuah tempat pedagang kaki lima berkumpul. Mungkin bagi orang-orang kota besar, tempat ini statusnya ‘hanya’, namun kalau aku lihat dari antusias orang-orang ini, aku yakin di sini memang istimewa. Ada dua jalur jalan yang dipisahkan oleh sebuah taman kecil dan gelap. Di sepanjang sisi jalan banyak pedagang kaki lima, menjual makanan dan minuman.

Mampir aku di sebuah kedai. Memesan Saraba, kata teman-temanku minuman ini enak. Dan setelah aku coba memang enak. Mataku menjelajah ke sepanjang sudut taman remang-remang itu. Seperti yang sudah kuduga sebelumnya. Malam minggu, dua orang lawan jenis dan cahaya remang-remang, jika ketiga unsur itu diramu hasilnya adalah mesum. Dan lagi-lagi, ini yang mereka sebut lazim, sementara engkau dan aku yang resah dianggapnya tak lazim.

Lamunanku tiba-tiba menuju perempuan yang akan kutemui itu, San. Apakah aku akan seperti mereka yang diremang-remang itu? Ah, sepertinya tidak. Aku hanya berniat menyentuh hatinya. Bukan kulitnya. Semoga. Apakah engkau masih bersamaku San? Semoga engkau masih menyetiaiku. Kepalaku pusing oleh kelaziman dan oleh lamunanku tentang perempuan itu.

Menuju hotel untuk merebahkan badan. Sebelum kubuka pintu kamarku, dari kamar sebelah keluar sepasang manusia dengan wajah lelah. Pemuda dan seorang dara yang aku perkirakan usia sekolah. Berjilbab. Ya, simbol-simbol agama sekarang hanya jadi tren, San. Aku malah rindu dengan kerudung Ibu, meskipun bukan jilbab, tapi ibu dan teman-temannya yang hanya menggunakan kerudung itu lebih bisa memegang agama dibanding mereka-mereka yang sekarang lebih tertutup secara fisik. Ini penyakit apa San? Tapi mereka yang bilang kita ini yang sakit ketika mempertanyakan itu.


Pelabuhan Bau-Bau ternyata tak kalah teriknya. Orang di sampingku sempat nyeletuk “Mungkin pengatur suhu kota ini lagi rusak”. Perjalanan selama hampir lima jam menggunakan kapal cepat dari Kendari begitu meletihkan, kapal fiber kecil itu berkali-kali dihantam ombak. Rasanya perutku mual. Selama di kapal aku sempat menanyai beberapa orang, katanya untuk sampai di daerah tempat perempuan yang ingin ku jumpai ini aku harus naik bis lagi. Butuh waktu 4-5 jam perjalanan.

Mual akibat goncangan kapal itu sepertinya semakin parah, aku memilih istirahat di kota ini untuk semalam. Lagi-lagi aku memilih hotel murahan untuk menginap, hanya sekedar mencari tempat untuk meluruskan tulangpunggugku. Panasnya kamar yang tak ber-AC membuatku gerah, tak bisa tidur. Kupilih untuk duduk di depan kamar, mencoba mencari angin yang sepertinya enggan datang. Ditengah asiknya aku membaca majalah usang yang disediakan hotel, aku melihat perempuan bertubuh seksi keluar dari salah satu kamar. Cantik, muda dan bentuk tubuh yang membuat laki-laki akan menelan ludah. Namun, segera kusudahi perhatianku padanya. Yang membuat aku kaget, lebih dari ketakjubanku pada perempuan yang baru saja lewat didepanku adalah seorang lelaki keluar dari kamar yang sama, hanya berselang sekitar dua menit. Prostitusi memang biasa, namun laki-laki berumur itu masih menggunakan pakaian kerjanya. Sepertinya itu pakaian PNS. Segera kulihat jam dinding, masih jam tiga sore. Belum waktunya pegawai itu keluar kantor. Mataku lantas menjelajah ke seluruh sudut ruangan itu, ada beberapa orang yang menyaksikan apa yang aku lihat, namun dari raut muka mereka, aku melihat mereka terbiasa dengan ini. Hal ini sudah lazim, dan keherananku ini dianggapnya tak lazim.


Sebelum jam delapan aku sudah menuju terminal Lapangan Tembak. Kabarnya bus menuju Lasalimu hanya ada di pagi hari. Hanya ada satu bus yang siap berangkat, aku tak punya pilihan. Aku naik sebuah bus yang umurnya kemungkinan dua kali lipat dibanding umurku. Aku terpaksa hati-hati untuk memegang sumua bagian dari bus ini, takut kena tetanus. Sebab karat sudah menjalar ke semua bagian.

San, ternyata perjalanan ini melebihi ombak di kapal cepat kemarin itu. Kursi bus yang tidak nyaman ditambah dengan berdesak-desakan dan bonus aroma khas kemiskinan. Menambah pengap, menambah gundah. Perjalanan ini menyiksa, San. Apakah aku sekarang menyesal? Ah, sepertinya bukan. Ini hanya tantangan menuju kenyataan. Jalanan seakan ombak besar.

Aneh juga, Buton yang terkenal sebagai penghasil aspal, tapi jalanannya seperti tak beraspal. Parah. Apakah hanya aku yang mepertanyakan kemana aspal Buton? Kulihat wajah-wajah disekitarku merasa nyaman-nyaman saja dengan kondisi ini. Lubang-lubang jalan seakan sudah lazim bagi mereka, dan aku yang gelisah dianggapnya tak lazim.

Dengar-dengar ada undang-undang lalulintas yang baru. Lebih ‘garang’, begitu kata orang-orang. Tujuannya mulia, melindungi masyarakat dari bahaya kecelakaaan. Jadi harus pake helm standart, lampu harus nyala, spion harus lengkap dan lain-lain. Karena bagi Undang-undang itu, yang menentukan keselamatan adalah perlengkapan itu. Tapi saya jadi bingung, bagaimana bisa memaksakan aturan normal di kondisi yang tidak normal? Jalanan yang bergelombang dan berlubang tanpa aspal serta licin seperti ini tentu saja beresiko kecelakaan. Nah, kalau jalan yang rusak, siapa yang harusnya di tilang? Ah, tapi bukannya jalan yang tak terawat bagi mereka itu lazim.

San, apakah engkau masih bersamaku kini? Aku tiba di sebuah desa dimana perempuan itu tinggal dan mengabdi. Entah mengabdi pada apa? Mungkin mengabdi pada kelaziman. Sampuabalo, begitu nama desa itu. Kutanya pada penduduk, diarahkannya aku ke ujung kampung. Berjalan kaki menuju ke sana, diiringi oleh sorot mata penduduk kampung. Aku orang asing, orang tak lazim. Dalam bisunya itu, mereka seakan bertanya “apakah aku ini maling?”. Sesekali aku dengar mereka berbisik dengan bahasa yang aku tidak mngerti, yang pasti kata-kata mereka banyak menggunkan huruf ‘c’. mungkin itu sebabnya, Perempuan yang akan aku temui ini pernah bilang padaku, bahwa penduduk desa ini adalah dari suku Cia-cia.

Sampai juga aku di ujung kampung, dua bangunan agak panjang. Bangunan lusuh, hampir ambruk. Dari kejauhan aku sudah bisa melihat ada langit-langitnya yang ambrol. Ada halaman di salah satu sisi. Luas, cukup untuk anak-anak bermain bola. Di lapangan itu ada tiang yang ujungnya bendera. Ternyata disini masih Indonesia juga. Minimal orang-orangnya masih merasa di Indonesia, meskipun si-Indonesia sendiri diragukan pernah ke sini lalu melihat ada anak-anak yang ada di ruangan itu dengan baju putih dan celana pendek merah hati. Jarang yang bersepatu.

Aku menunggu. Duduk di sudut lapangan di bawah sebuah pohon, berlindung dari terik yang lumayan menyengat. Sesekali aku dimanja oleh angin laut yang ternyata hanya beberapa puluh meter dari tempatku duduk. Bahkan aroma pasir pantai bisa kucium dari tempatku itu. Anganku melayang. Bertanya. Kenapa perempuan itu mau tinggal disini? Ini jelas tidak lazim bagi perempuan yang cerdas itu? Hah, ternyata aku sekarang yang terjerumus ke dalam kelaziman, dan menuduh perempuan itu tak lazim. Atau mungkin saja perempuan itu memang satu dunia dengan kita San, dunia ketidak-laziman. Dunia khayal.

Belum selesai tanya itu aku jawab dengan pasti, tiba-tiba ada sorak anak-anak kecil, mereka berhamburan dari dalam ruangan itu. Selesai juga anak-anak itu belajar, waktunya mereka pulang ke rumah. Ada lima ruangan. Lima pintu. Entah kenapa, harusnya SD itu punya enam kelas dan satu kantor. Normalnya, minimal ada tujuh pintu jika ingin disebut Sekolah Dasar. Tapi masa bodoh dengan itu, aku bangkit dari tempat dudukku dan berjalan pelan. Mataku terus mengawasi ke lima pintu itu, aku yakin perempuan itu akan muncul dari salah satunya.

Jalan, jalan, pelan, mata memandang. Dari kelas paling ujung, ada sosok perempuan muncul. Tidak tinggi, tidak juga pendek. Dari kejauhan terlihat kulitnya putih, minimal lebih putih dibanding penduduk setempat. Kupercepat langkahku. Mungkin namanya sudah lari. Dan betul. Inilah perempuan itu, yang selama ini aku kenal lewat suara dan berbekal kiriman foto yang hanya selembar. Memang, ada sedikit berbeda dengan yang ada di foto, namun aku yakin perempuan ini adalah dia.

Aku sambut dengan senyum ketika sudah satu meter di depannya. Kuatur nafas. Gemetar. Mungkin juga grogi. Tapi, kenapa wajah perempuan itu menjadi sedikit heran. Sepertinya dia tak mengenalku, padahal aku juga pernah mengirimkannya foto. Aku jadi ragu, apakah dia perempuan yang aku cari.

“Kamu Ani kan?” aku memberanikan diri untuk bertanya. Dijawabnya dengan anggukan ringan namun masih memasang wajah heran, dan sekarang sepertinya wajah itu ketakutan. “Aku Ali, Aku Ali” kataku untuk meyakinkannya. Dalam hitungan kurang dari sedetik, wajah ketakutan itu sirna. Seyum lebar, hingga membuat lesung pipinya nampak terlihat. Semakin manis. Akupun tersenyum, bahagia. Seperti lazimnya mereka-mereka. []

——

Mengenang Desa Sampuabalo, Kecapamatan Lasalimu, Kab. Buton ~ Sulawesi Tenggara

Tembagapura, 24 Januari 2010

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here