Menjaga Martabat SBY

Presiden Republik Indonesia ke-enam, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) jadi bahan pembicaraan publik belakangan ini, seiring dengan menghangatnya situasi politik tanah air.

SBY terseret dalam berbagai peristiwa yang cukup menghebohkan. Isu penyadapan, rumahnya yang di demo oleh ratusan orang hingga berbagai macam kicauannya di media sosial (medsos) twitter yang tak urung jadi bahan pergunjingan para pengguna internet.

Bapak dari calon gubernur DKI Jakarta Agus Yudhoyono tersebut merasa gerah ketika muncul dugaan dirinya dimata-matai. Isu itu mencuat ketika pengacara tersangka kasus penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) bertanya kepada Ketua Umum Majlis Ulama Indonesia (MUI) di persidangan yang digelar pekan lalu, Selasa (31/1/2017).

Melalui ciutan di twitter dan juga konferensi pers, SBY melayangkan protesnya. Ia merasa tak terlindungi privasinya.

Belum reda polemik mengenai penyadapan, SBY kembali harus menuangkan keluh kesahnya di medsos lantaran rumahnya digeruduk ratusan mahasiswa.

“Saudara-saudaraku yg mencintai hukum & keadilan, saat ini rumah saya di Kuningan “digrudug” ratusan orang. Mereka berteriak-teriak. *SBY*,” cuit SBY, Senin (6/2/2017).

Ia juga mempertanyakan mengenai hak asasinya. “Saya bertanya kpd Bapak Presiden & Kapolri, apakah saya tidak memiliki hak utk tinggal di negeri sendiri, dgn hak asasi yg saya miliki? *SBY*,” tulisnya.

Demonstrasi di rumah SBY tersebut memang tidak seharusnya terjadi. Karena hukum di Indonesia tidak mengijinkan ada unjuk rasa di rumah pribadi.

Selain itu, sebagai mantan presiden, negara harusnya memberikan perlindungan keamanan. Hal tersebut tertuang dalam Peraturan Pemerintah nomer 59 tahun 2013 tentang Pengamanan Presiden Dan Wakil Presiden, Mantan Presiden Dan Mantan Wakil Presiden Beserta Keluarganya Serta Tamu Negara Setingkat Kepala Negara/Kepala Pemerintahan.

Jadi, tidak sepatutnya ada demonstrasi di kediaman SBY. Polisi atau siapapun saja harus ada pihak yang bertanggung jawab karena sampai ada demonstrasi itu.

Bagi saya, selain pengamanan secara fisik, kita (masyarakat maupun negara) juga punya tanggung jawab moral untuk menjaga martabat mantan Kepala Negara. SBY adalah mantan presiden dua periode. 10 tahun ia wakafkan waktu dan tenaganya untuk Indonesia, sehingga cukup layak jika kita berikan penghormatan kepadanya.

Hal ini yang membuat saya sangat prihatin. Bagaimana tidak? Ketika SBY mencurahkan keluh kesahnya di media sosial, para netizens ramai-ramai memperlakukan beliau secara tak sopan.

Curhatannya malah digunakan sebagai bahan olok-olok dan candaan. Berbagai macam meme serta ungkapan-ungkapan dibuat dengan memplesetkan kalimat-kalimat SBY. Bahkan kalimat-kalimat canda itu menjadi trending topic.

Sekali lagi, menurut saya martabat SBY sebagai Presiden Republik Indonesia ke-enam harus dijaga. Sebagai rakyat dan sebagai manusia beradab tentu kita punya keharusan untuk melindungi martabat SBY.

Meski demikian, saya juga berpendapat jika selain rakyat, SBY juga punya kewajiban mutlak untuk menjaga martabatnya sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here