Saya Bukan Kambing

Sudah saya tahu sejak beberapa tahun lalu jika ada sekelompok perempuan yang meyakini bahwa memposting foto dirinya di media sosial bisa menimbulkan fitnah. Saya memahami sekaligus menghargai pilihan itu. Meskipun ada beberapa catatan, saya tidak ambil pusing dengan pilihan mereka itu, toh itu muka mereka sendiri, jadi apa urusannya dengan diri saya?

Meski demikian saya lumayan terkejut, lebih tepatnya mungkin senyum geli melihat sebuah postingan foto di halaman facebook saya pagi ini.

Saya tidak tahu siapa dia, artis atau selebritis kah? Sama sekali saya tak mengenalinya. Pria muda itu berpose dengan latar belakang gunung yang diselimuti salju. Sembari senyum lebar dia memegang sebuah kertas yang berisi sebuah pesan.

“Buat cewe yang sudah punya laki, kalo posting foto mohon foto berdua dengan lakinya. Jangan biarkan kami naksir bini orang” bunyi pesan yang ditulis dengan huruf kapital semua.

Saya tak sepenuhnya paham latar belakang pria ini berfoto dengan sebuah pesan demikian. Bisa jadi ia sedang ‘berdakwah’ atau sekedar becanda saja. Namun saya menangkap keganjilan pada foto tersebut.

Bagi saya, keputusan perempuan untuk tidak menampilkan dirinya ke publik adalah hak pribadinya. Sebuah kesadaran penuh oleh dirinya sendiri, ‘paling jauh’ adalah itu dilaksanakan atas intruksi bapaknya atau suaminya.

Jadi ‘dalil’ mengenai tak boleh posting foto sendirian di media sosial itu sebenarnya wilayah perempuan. Jikapun itu laki-laki, maka hanya teruntuk disampaikan kepada perempuan-perempuan di wilayah tanggung jawabnya.

Sementara saya, atau laki-laki lain harusnya bukan ‘dalil’ itu yang dipakai.

Penyakit kebanyakan dari kita adalah menggunakan sebuah dalil yang sebenarnya tidak untuk diri kita.

Misalnya, seseorang datang meminta maaf sembari menodong dengan berpegang pada dalil: Tuhan saja Maha Pemaaf, masak kamu tidak?

Sebagai pihak yang meminta maaf, seharusnya yang memenuhi hatinya adalah keikhlasan dan kelapangan hati untuk mengakui kesalahan.

Contoh lainnya, jika saja ada guru ngaji yang kemudian menyatakan ikhlas mengajar anak-anak kampung belajar baca Alquran tanpa dibayar misalnya, ia melakukan semua karena ingin mencari ridho Allah. Maka biarkan dia bermelankolis ria dengan sagala keikhlasannya tersebut.

Meski sang guru ngaji berniat sebagai sebuah ibadah, tidak serta merta mengugurkan ‘kewajiban’ orang tua anak yang diajar untuk memberikan balasan yang layak kepadanya. Ini adalah bagian dari dialektika sosial.

Kembali ke soal foto di atas, maka pria yang sedang menebar pesan tersebut menurut saya salah koordinat. Ia sebaiknya berpesan kepada dirinya atau sesama pria berotak ngeres lainnya untuk berpuasa dan menahan diri jika melihat foto perempuan di media sosial.

Biarkan saja para perempuan yang berkeyakinan soal tidak ingin memperlihatkan wajahnya di jagad internet tersebut bermelankolis ria dengan Tuhan. Hal tersebut anggap saja bagian dari cara mereka mencintai Allah.

Sementara saya dan kaum laki-laki lainnya bergerak di wilayah dan maqom pria, yakni menahan diri. Mendayagunakan akal, hati dan juga iman dalam menjaga diri.

Lagian saya ini juga bukan kambing yang langsung ‘greng’ jika melihat lawan jenis tanpa ada perlawanan dari batin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here