Wahai Jelata, Jangan Takut Miskin

Beberapa hari lalu, seorang teman menyatakan tidak suka dengan cerpen saya. Ia mengaku memang kurang senang dengan cerpen yang ‘menggantung’ ending-nya. Menurutnya, cerpen yang mengembalikan kesimpulan ke pembaca itu menjengkelkan.

Saya sendiri tidak kaget, itu memang selera dia. Namun saya berpendapat akan lebih bagus jika seseorang itu menemukan sebuah konklusi dari proses pemikirannya sendiri. Perjalanan sampai pada sebuah kesimpulan tersebut jauh lebih berkesan dibandingkan saya harus secara terang-terangkan mengarahkan sebuah pesan.

Resikonya memang akan disalahpahami atau ditafsiri secara tak tepat. Itu semua tidak memberatkan diri saya.

Di samping itu, menggurui seseorang adalah sebuah tekanan yang cukup berat bagi saya. Menyadari jika diri saya sebenarnya tidak lebih baik dibandingkan oleh orang lain. Teramat jauh tertinggal sehingga tidak pantas jika secara pongah mendiktekan sebuah wacana apalagi jika sampai memberikan wejangan-wejangan. Saya sangat hati-hati dengan hal ini.

Karena terkadang saya sering menjumpai beberapa orang yang sebenarnya berniat baik, akan tetapi kurang tepat dalam pemilihan kata dan memahami situasi. Berpetuah sesuatu yang tidak tepat materi dengan waktu serta orang sedang dikasih pesan.

Ada semacam ketidakmampuan menemukan koordinat yang presisi tentang materi yang akan simpaikan, audiens yang disasar, nuansa yang sedang berjalan dan berbagai faktor lainnya.

Seperti sebuah postingan di facebook yang sempat mampir di timeline saya. Mohon abaikan mengenai Pikadanya, saya sama sekali tidak membahas soal itu. Saya tertarik dengan beberapa kalimat dan paragraf terakhir dari rangkaian kalimat tersebut.

Wahai ibu-ibu ku tercinta, ketahuilah walaupun bukan Ahok gubernurnya KJP masih terus berjalan karena itu adalah program dari Pemda bukan dari Ahok.
Lagian juga , jangan takut miskin ngapa sihh .. rejeki itu bukan dari Pemda, Gubernur atau dari Presiden,
Allah Ta’ala yg ngasih .. jadi yaa minta aja sama Allah Ta’ala..
Allah Ta’ala udah ngasih jaminan untuk setiap manusia yg bernyawa .. yg kafir aja dikasih apa lagi kita sebagai org yg beriman ..
Ingat jangan takut miskin.. bagi kita yg kaya akan Iman..” Tulis seorang netizen (saya sengaja tidak menampilkan akunnya) sembari menyertakan foto Kartu Jakarta Pintar (KJP).

Ingat, ini bukan soal Pilkada, apalagi mengenai Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Saya menduga dengan sungguh-sungguh jika pengunggah kalimat itu berniat baik. Akan tetapi jika kalimat itu dilemparkan ke dunia nyata, di sebuah komunitas yang memang hidup dalam kemelaratan maka tak usah kaget jika responnya akan menohok.

Andai saja di warung kopi di kampung-kampung miskin Anda berpetuah tentang kesabaran, “Wahai jelata, jangan takut akan kemiskinan”.

Maka jangan kaget kalo kemudian ada yang misuh dan nyeletuk. “Jancook! Takut, matamu! Kita sudah jalanin kemiskinan bertahun-tahun dan bertahan, kamu ajari kami kesabaran?”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here