Memproduksi Fakta dari Hoax

Berita hoax atau kabar palsu saat ini tidak bisa diteropong secara sederhana. Menilai hanya dari sudut apakah suatu informasi itu benar atau salah, fakta atau sekedar rekayasa. Tidak sesimpel itu, dimensi untuk mengukurnya sangat luas.

Saling sengkarut informasi serta naiknya tensi ketegangan karena gesekan-gesakan sosial dan juga politik membuat sebuah berita menjadi sangat mudah berubah kedudukannya, dari awalnya berupa informasi hoax kemudian menjelma menjadi sebuah fakta.

Semakin tidak jelas saat ini mana yang benar-benar fakta atau kenyataan yang tercipta karena disulut oleh cecaran-cecaran hoax yang yang kemudian dibumbui dengan susunan dalih yang cukup menyakinkan.

Sekarang fakta bisa ‘diproduksi’ dengan berbahan kabar bodong. Kegilaan masal diciptakan hanya berawal dari percikan kecil.

Fanatisme terhadap pilihan politiknya, tekanan-tekanan sosial serta luapan ekspresi keagamaan yang tak terkontrol membuat segala macam keedanan ini sangat mungkin terjadi.

Misal suatu saat ada yang bikin satu spanduk dengan tulisan yang sangat tendensius: “Warga RW 04 Kelurahan Blabla Menolak Bantuan dari Orang Kafir karena Haram

Pengumuman itu dipasang lantas difoto. Selanjutnya dengan masif kelompok tertentu menyebarkan ke media sosial (medsos). Spanduk itu sangat mungkin palsu, paling jauh adalah sebuah rekayasa segentir orang yang diprovokasi untuk membuat dan memasang pengumuman tersebut.

Sementara itu ada sebuah gerakan lain yang memproduksi dalil untuk menguatkan spanduk itu. Pola penyebarannya juga serupa dengan cara mempopulerkan spanduk, yakni dengan jalan menyebarkan di media sosial.

Heboh! Gemuruh di medsos maupun portal berita online, entah yang mainstream ataupun yang independen dengan segala macam framingnya.

Diluaran, dua kubu saling berkelahi dan mengadu kericuhan pendapat di medsos. Mereka yang semejak semula tidak menyukai sikap-sikap kafir mengafirkan, keras, kakunya sebagian umat Islam seakan mendapat pembenaran dari spanduk yang terpampang.

Sementara itu, mereka yang sedari awal memang merasa posisinya terintimidasi oleh kekuatan-kekuatan luar Islam mencoba bertahan dengan jalan mencari pembenaran atas spanduk tersebut. Tidak usah repot, karena ternyata di medsos sudah ada yang menyediakan dalil pembenar.

Semua bermula dari keenganan untuk menahan diri dari semua kubu. Spanduk tersebut lantas menjadi inspirasi kelompok tertentu untuk melakukan hal serupa, membuat spanduk sejenis sebagai bentuk perjuangan. Sementara yang yang sedari awal kontra dengan isi spanduk semakin yakin bahwa ada kelompok yang dianggapnya berpandangan sempit.

Spanduk akhirnya bertebaran, itu jadi sebuah fakta. Pembenaran atas isi spanduk pun telah ‘dilegalkan’ oleh tokoh-tokoh panutannya.

Jurang perbedaan pendapat juga semakin luas karena kelompok yang anti tambah mantap dengan keyakinan mereka bahwa ada kelompok yang tak bisa mereka terima cara pandangnya.

Podusen fakta berbahan hoax bertepuk tangan sembari terus memeriksa rekeningnya. Sementara ada terus berkelahi tanpa pernah sempat memeriksa gudang yang habis-habisan dirampok.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here