Aku Kabur dari Perdebatan Islam dan Kristen

Saya sudah menghindari perdebatan agama sejak duduk di bangku SMP. Ketika ada teman yang kristen kemudian berdiskusi dengan teman saya yang lain yang beragama Islam.

Pertama, karena itu adalah obrolan anak SMP, maka tentu saja yang diperdebatkan sesuatu yang absurd dan membahasanya secara sangat dangkal. Maklum masih terhitung anak-anak, kedua pihak sama-sama tak punya kemampuan yang cukup dalam tentang yang dibahas.

Kedua, saya melihat teman saya yang kristen ini seperti sedang ‘dikeroyok’. Sebab dia sendiri diantara beberapa teman saya yang Muslim lainnya. Tak pernah saya ketahui siapa yang memulai, namun terlihat jelas teman kristen mulai keteteran dalam berargumen sebab terus dicecar. Teman Muslim lain juga ada yang tak paham dengan beberapa istilah yang diutarakan oleh si Kristen.

Tak butuh waktu lama, saya kabur begitu saja tanpa pamit. Karena sudah jelas bahwa perdebatan itu tidak akan pernah ada akhirnya. Sudah pakai dua kacamata dan cara pandang yang cukup berbeda secara fundamental. Apa yang perlu diperdebatkan?

Jika saja nuansanya adalah keinginan untuk saling belajar atau mencoba saling memahami keyakian orang lain, saya masih terima. Itupun tidak mudah, sebab secara dasar sudah bertentangan. Orang memutuskan jadi Muslim karena menolak Kristen, begitu juga sebaliknya. Lantas apa yang diperdebatkan?

Saya sendiri bukan anti dalam mempelajari keyakinan orang lain. Meski lahir di keluarga Islam yang cukup tradisional, sejak kelas enam SD secara sembunyi-sembunyi saya membaca Injil. Saya tidak sengaja menemukan Kitab Suci orang Kristen tersebut lantas saya baca beberapa halaman.

Tidak untuk apa-apa, hanya mengobati rasa penasaran saja. Itupun saya lakukan dengan sangat hati-hati, mengingat kalau ketahuan keluarga saya, bisa runyam.

Saya memang tidak suka dan cenderung menghindari diskusi yang membahas tentang agama orang. Karena saya merasa diri saya sudah selesai dengan keyakinan saya.

Sejak kecil hidup di lingkungan orang Islam, satu kampung 100 persen muslim. Mendapat doktrin mengenai keislaman mulai masih balita dan tidak sekalipun pernah dirayu oleh orang dari agama lain untuk jadi murtad. Lantas apa urgensinya bagi saya untuk berdebat dengan orang non-muslim soal keyakinan yang saya peluk?

Saya tidak butuh pengakuan dari orang, karena agama bagi saya sangat pribadi. Jangankan dengan orang non-muslim, dengan sesama orang Islam pun saya memahami jika setiap pribadi akan menemukan getaran-getaran Tuhan melalui metodologi, jalur, peristiwa-peristiwa yang berbeda satu sama lainnya.

Bagi saya, soal agama sudah selesai. Saya hanya berdoa agar Allah melindungi dan menjaga keimanan ini. Tidak pernah berusaha mempertebal keyakinan dengan jalan mengungkap titik lemah kayakinan orang lain secara demonstratif.

Apa tidak berfikir untuk menyebarkan agama Islam? Saya menghargai orang-orang yang rela menafkahkan waktunya untuk membuat orang-orang non-muslim masuk Islam, akan tetapi saya memilih memperbaiki sikap saya saja dulu. Saya mengislamkan diri saja dulu.

Pernah saya menolak ajakan seorang teman yang ingin membuat pacarnya masuk Islam. “Terimakasih, saya masih belum pantas mengislamkan orang lain, perilaku saya saja masih sangat jauh dari ajaran Rasulullah” kataku.

Saya mempercayai satu hal, bahwa dengan berperilaku secara islami maka orang non-muslim akan berkesan. Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya tentang pengakuan mahasiswi Cina tentang Islam. (Baca: Perilaku Muslim dan Pandangan Mahasiswi Cina)

Perilaku yang menarik, sikap yang baik akan menimbulkan rasa penasaran hingga akhirnya melahirkan tanya: “Apa itu Islam?” di hati mereka. Pencarian seperti ini bagi saya jauh lebih baik dibanding mereka tanpa ada sentuhan-sentuhan sebelumnya tiba-tiba dicecar dengan pengetahuan tentang keislaman.

Inilah yang mendorong saya untuk tidak ikut-ikutan menyukai para penceramah agama yang menggunakan metode berdebat dengan keyakinan orang lain. Dilakukan secara demonstratif, disiarkan di berbagai media secara langsung.

Karena saya sendiri belum bisa menabung kesabaran yang cukup besar jika kemudian yang dikupas habis ‘sisi buruknya’ adalah keyakinan saya. Bukan soal iman yang goyah, semoga saja tidak, namun ceramah dengan model seperti itu sangat mendekati dengan harga diri yang terusik.

Tolok ukurnya bukan benar dan salah, akan tetapi pantas atau tidak. Takarannya tentang patut ataukah tidak patut. Ada yang tersinggung ataukah tidak.

Sebab, kita sendiri sebagai umat Islam belum mampu membangun kekuatan batin yang mumpuni untuk siap diperlakukan sebaliknya. Misalnya jika ajaran Islam yang dicari-cari ‘kelemahannya’ dan disiarkan secara gegap gempita. Siap?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here