Orang Terpelajar dan Religius pun Gegap Gempita Menyebar Hoax

Dalam beberapa hari belakangan saya menangkap sebuah peristiwa yang cukup menarik soal hoax. Menyebarnya berita palsu memang bukan barang baru, namun kali jadi sangat berbeda karena ada dua orang yang kecenderungan politiknya berseberangan namun sama-sama terjungkal oleh berita hoax.

Bukan hanya itu, keduanya sama-sama terpelajar dan cukup religius. Pertama adalah Sumanto Al Qutuby, seorang terpelajar dan kini mengajar di Arab Saudi. Dia terkenal sangat sering menyuarakan penolakan-penolakannya terhadap gerakan Islam tertentu, seperti yang terafiliasi dengan Front Pembela Islam (FPI).

Berdasarkan capture status Sumanto pada 28 April 2017, saya melihat ia mengomentari sebuah foto yang berupa screenshot sebuah berita mengenai salah satu pentolan FPI, Munarman.

Dalam foto yang dibagikan oleh Sumanto, terlihat sebuah gambar berupa judul berita dari tempo.co yang menyataka jika Munarman menyatakan umat Islam akan berperang melawan pemerintah jika Habib Rizieq ditahan.

Setelah ditelusuri, ternyata tempo.co tidak pernah menerbitkan berita tersebut. Hasil penelusuran akun facebook Indonesian Hoaxes disebutkan jika mereka tidak menemukan berita asli dari foto tersebut.

Setelah admin melakukan penelusuran dengan memasukkan keyword “Munarman FPI Tempo” di mesin pencari, Google, admin tidak menemukan adanya berita dengan judul yang sama dengan judul yang ada di gambar tersebut,” tulis akun Indonesian Hoaxes.

Orang kedua yang terjungkal-jungkal oleh hoax adalah Artis yang juga politikus, Marissa Haque. Dia saya anggap sangat terpelajar dan cukup religius, sebab di akun twitternya pun dengan gamblang ia sebutkan titelnya, Dr. Hj. Marissa Haque.

Ia juga turut menyebar sebuah screenshot dari sebuah laman berita CNN Indonesia.

Tertipu Hutang Karangan Bunga untuk Ahok 1,3 Miliar: Pemilik Lucky Florist, Feriyanto (32) Mengaku Kecewa Karangan bunga Yang Dipesan Tapi Belum Dibayar Lunas, Dia Menegaskan Akan Menempuh Jalur Hukum Tim Ahok Yang Ditagih Hutang Malah Mengancam Keluarganya,” salah satu tulisan yang ada di sreenshot yang disebarkan oleh istri dari Ikang Fauzi tersebut.

Waddduh, betul kan jk sebuah rekayasa manusia pasti akan terbongkar! U/anak yatim lbh baik drpd buang2 uang spt itu,” cuit akun @HaqueMarissa menyertai foto unggahannya.

Teramat disayangkan Marissa menyebar berita tersebut yang ternyata adalah paslu. Karena baik pihak Lucky Florist maupun CNN Indonesia menampik telah mengeluarkan berita tersebut.

Melalui akun media sosialnya, CNN Indonesia menyatakan tidak pernah mengeluarkan berita seperti yang tertulis di screenshot yang disebaran oleh Marissa Haque.

Dua orang terpelajar, berpendidikan tinggi tertipu oleh sebuah screenshot editan. Apakah ada yang lebih memalukan lagi dibandingan ini?

Hanya berbekal sebuah foto yang jika ingin lebih teliti sedikit saja, sangat mudah untuk mencari kebenarannya. Kalaupun tidak mengetahui kebenaran atas isi informasinya, paling tidak hanya bermodal jempol dan sedikit otak sangat mudah untuk mengecek apakah media tersebut pernah mengeluarkan berita semacam yang ada di screenshot.

Google sudah ada, ponsel pun saya yakin punya, pulsa juga bukan barang mewah bagi mereka yang punya gelar mentereng tersebut. Apakah hanya karena gejolak nafsu atas kebencian kepada sebuah kelompok atau pihak membuat daya kritis terhadap informasi yang cukup rawan tersebut jadi sedemikian rendah?

Ini bukan dalam rangka menghakimi orang-orang yang saya sebutkan di atas. Apa yang saya sampaikan adalah bagian dari peringakan kepada siapa saja, termasuk diri saya sendiri, bahwa virus yang bernama hoax ini bisa menyerang siapa pun. Terlebih, kelompok yang rentan terserang adalah yang meluap-luap gairahnya untuk menyuarakan kesetujuan atau ketidaksetujuan terhadap sesuatu.

Mari sama-sama berfikir jernih, tarik nafas dalam-dalam. Mari mencurigai diri sendiri, jangan sampai yang kita perjuangkan bukan rasa nasionalisme, semangat jihad, kejayaan agama atau kebenaran hakiki, melainkan tak lebih dari hasrat diri sendiri, ego pribadi dan kepentingan-kepentingan golongannya sendiri.

Karena jika demikian yang terjadi, maka saya teramat yakin jika berderet gelar pendidikan, berentetan julukan yang menandakan tingkat religiusitas sama sekali tak pernah bisa berguna. Daya kritis terhadap informasi melemah, cakrawala berfikir semakin sempit, penggalian informasi makin dangkal hingga akhirnya melakukan sesuatu yang tak lebih dari ajang memamerkan aib sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here