Menodong Ustad Abdul Somad

Sebenarnya, awalnya kurang tertarik untuk membahasa masalah ini. Tentang Zulfikar Akbar, junalis yang harus bermasalah dengan tempatnya bekerja seusai menuliskan sesuatu di Twitter mengenai Ustad Abdul Somad (UAS).

Singkat cerita, wartawan yang juga seorang penulis aktif di kompasiana ini dipanggil Pimrednya lantaran media tempatnya bekerja dapat respon negatif dari publik karena twitnya. Zul dipecat.

Sejujurnya saya terkejut mendengar kabar itu. Dipecat adalah sebuah sanksi yang sama sekali diluar ekspektasi saya. Meskipun saya tidak menampik jika pernyataan Zul mengenai UAS tersebut sudah ‘offside’. Dia kurang tepat dalam memilih kata, kurang presisi dalam membaca momentum dan lain sebagainya.

Oleh karenanya saya mengakui jika ada yang kurang pas jika sebuah offside harus diganjar dengan kartu merah. Tapi saya tidak tahu yang sebenarnya, sebagai orang luar hanya melihat yang nampak-nampak saja. Bisa jadi ada hal lain yang cukup berlasan bagi tempatnya bekerja untuk memberikan sanksi berupa pemutusan hubungan kerja.

Apa yang saya sampaikan di atas sebenarnya sangat subyektif dan bukan persoalan itu yang sesungguhnya ingin saya bahas. Itu hanya sekedar pengantar untuk sesuatu yang akan coba saya sampaikan.

Polemik yang menimpa Zul itu membuat pria asal Aceh itu lantas meminta maaf kepada publik di Twitter.

Namun, –ya, saya menilai permintaan maafnya harus diberi namun– Zul setelahnya melemparkan pernyataan-pernyataan yang bisa dinilai sebagai usaha membela diri.

Menurut saya ini juga kesalahan dalam memilih momentum, sekiranya seusai meminta maaf maka persiapkan hati dan pikiran untuk meredakan gejolak diri sekaligus menenangkan hiruk pikuk yang terjadi di publik. Tidak seketika menguar pernyataan-pernyataan yang terkesan kontraproduktif dengan permintaan maafnya.

Hal lain lagi yang perlu say kritisi adalah pernyataan dia dalam merespon followernya yang menyarankannya untuk meminta maaf kepada UAS secara langsung.

“Speaking of caci maki,semoga sampeyan nggak lupa untuk cari dan minta maaf langsung ke Ust Abdul Somad yang sudah sampeyan gelari ‘Pemuka Agama Rusuh’ yang menghasilkan ‘umat beringas’,” tulis seseorang netizen dengan akun @imamghazali.

Menurut saya, Zul menanggapi saran ini dengan kurang bijak bahkan cenderung ada ketidaktepatan dalam kontruksi pikirannya.

“Nilai Islam itu memaafkan sebelum orang minta maaf. Saya yang bukan ulama sudah maafkan ribuan orang yang mencaci maki saya meski tak satupun yang minta maaf, Mas. Ulama pastilah lbh paham kaidah maaf-memaafkan ini,” jawab Zul.

Jawaban Zul tersebut sebenarnya sering juga dipakai oleh sebagian dari kita. Yakni menggunakan dalil untuk orang lain untuk memberikan pembenaran atas apa yang kita lakukan.

Kewajiban orang yang merasa bersalah adalah meminta maaf. Tugas terpenting pihak yang merasa bersalah adalah menyiapkan batin untuk bisa sepenuhnya ikhlas dalam meminta maaf, membangun ketegaran agar siap dan tabah dalam menerima resiko-resiko yang akan dihadapi atas kesalahannya.

Soal orang yang dimintai maaf mau memaafkan atau tidak bukan urusan pihak yang minta maaf. Datanglah meminta maaf dengan segala kesiapan batin dan ketegaran tadi, bukannya datang dengan membawa dalil-dalil soal bagaimana memaafkan orang yang bersalah.

Jika pihak yang akan minta maaf datang dengan membawa dalil ‘orang harus memaafkan sebelum orang minta maaf‘ atau ‘Tuhan saja Maha Memaafkan, masak kamu tidak bisa memaafkan‘ maka itu bukan sedang meminta maaf namanya. Itu namanya nodong.

Soal ulama bakal memaafkan dan mengerti kaidah maaf-memaafkan itu urusan UAS. Itu sama sekali tidak mengurangi ‘kewajiban’ seseroang yang bersalah untuk meminta maaf.

Beberapa bulan sebelumnya, Gus Mus dihina orang dan beliau langsung memaafkan dan bahkan meminta perusahaan tempat bocah itu bekerja tidak memecatnya. Akan tetapi itu tidak membuat si bocah kemudian merasa keharusannya untuk sowan meminta maaf secara langsung gugur. Karena beberapa waktu setelahnya dia datang ke Gus Mus dan meminta maaf.

Kejadian serupa juga pernah dialami oleh seorang perempuan yang atas kesalahannya kemudian mendorongnya datang ke Mbah Yai Maimoen Zubair. Mbah Mun sudah hampir pasti punya keluasan hati untuk memaafkan perilaku perempuan tersebut, akan tetapi si pelaku merasa tak perlu untuk hadir untuk mengucapkan maaf.

Biarkan pihak yang dimintai maaf itu bermelankolis ria dengan Tuhan dengan segala dalil perihal indahnya memberi maaf kepada orang-orang yang bersalah padanya. Sebagai peminta maaf jangan coba-coba berlindung menggunakan dalil itu.

Secara pribadi saya tidak bisa untuk kehilangan rasa prihatin atas apa yang menimpa Zul, namun harus saya akui jika respon-responnya terhadap kejadian ini kurang dewasa bahkan menurut pandangan saya sudah keliru.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here