Ditampar Raissa

Raissa Kanaya. Nama seorang gadis berkaca mata yang memiliki senyum penuh cahaya kebahagiaan. Itulah kesan yang saya dapat dari sebuah foto di Facebook yang diposting oleh Kiai Tohar (Toto Rahardjo), salah satu guru di lingkungan jamaah Maiyah.

Postingan tanggal 29 Februari 2020 tersebut membuah saya terhenyak, sebab Kiai Tohar menyebutkan bahwa Raissa adalah gadis yang berani menyatakan tidak mengikuti Ujian Nasional (UN) untuk mendapatkan ijasah SMA.

“Menyatakan tidak mengikuti Ujian Nasional paket C pada tanggal 04-07 April 2020. Adapun alasan secara pribadi, saya merasa tidak perlu tanda kelulusan dari Negara untuk menguji kualitas pendidikan yang saya dapat dari sekolah. Alasan lainnya adalah esensi pendidikan terletak pada penerapan nilai-nilai di kehidupan sosial, bukan terletak pada tanda kelulusan berupa Ijazah.”

Seperti itulah pernyataan gadis tangguh yang lahir di Jakarta, 30 Desember 2001.

Edan! Seberapapun jengahnya saya terhadap sistem pendidikan yang ada, hampir mustahil memiliki keberanian hati untuk bersikap seperti itu. Raissa yang baru berusia 18 tahun sudah menyimpan modal keteguhan yang melampaui orang-orang dewasa lainnya.

Layaknya seorang dukun, tiba-tiba saya bisa merasakan betapa bahagianya dirinya dan semacam ada keyakinan jika masa depan Raissa ini akan tenteram. Sebab ia sudah lulus dari ujian berat, dimana banyak diantara kita yang sampai saat ini tak pernah bisa menyelesaikannya.

Tentu saja tidak bisa dipungkiri bahwa langkah hebat Raissa ini akan dikomentari tak sedap dari “orang-orang modern”. Bahkan di laman Facebook saya, saat saya share postingan tersebut ada yang berkomentar mengenai resiko yang akan dihadapinya, soal kuliah dan pekerjaan nantinya. Karena saya tak ingin berdebat panjang, saya tak membalas komentar itu, padahal ingin juga saya membalasnya dengan kalimat: “Raissa sudah lulus dari segala macam kekhawatiran yang kamu tulis itu, tak usah mengajarinya lagi, dia jauh melambung di atas kamu dan saya.”

Dunia pendidikan di negeri kita ini sepertinya punya masalah. Bukan soal kurikulum atau sekolahnya saja, akan tetapi juga pandangan masyarakat umum mengenai pendidikan. Saya bukan orang yang memiliki ilmu mengenai pendidikan anak, akan tetapi saya menangkap banyak perilaku orang tua saat ini yang sangat tidak ramah terhadap anak.

Anak-anak jaman sekarang dibebani oleh banyak kesilapan berpikir orangtuanya. Bapak ibunya menabung kekhawatiran akan masa depan anak lantas menghujam-hujamkan anak ke situasi yang tidak selayaknya. Harus ranking kelas, juara olimpiade matematika, ikut les ini dan itu dengan jadwal yang super padat tanpa pernah punya kemampuan menganalisis dimana bakat anak sebenarnya.

Masa depan anak lantas diletakkan pada angka-angka di ijazah. Kita bahkan kesulitan menemukan formula yang efektif untuk menilai kecakapan atau keahlian seseorang, semua memilih ambil gampangnya dengan melihat nilai yang ada di lembar kelulusan sekolah atau kuliah.

Pola pikir kebanyakan dari kita mengenai kebahagiaan diukur  dari pekerjaan yang mentereng, jadi karyawan perusahaan bonafid dan parameter-parameter yang wadak lainnya. Benarkah kebahagiaan berada di posisi itu? Bahwa gaji besar bisa bikin bahagia, itu sangat mungkin, tetapi apakah itu satu-satunya jalan?

Raissa adalah contoh nyata mengenai kebahagiaan itu. Bahagia lahir dari hati yang telah selesai dan merdeka dari doktrin-doktrin gelap mengenai pendidikan.

Berapa banyak anak Indonesia yang sudah sekolah 12 tahun yang mampu melahirkan kalimat “saya merasa tidak perlu tanda kelulusan dari Negara untuk menguji kualitas pendidikan yang saya dapat dari sekolah”?

Berapa institusi pendidikan dan orang tua yang bisa membuat anak remaja punya tekad bulat dan lantang berkata “esensi pendidikan terletak pada penerapan nilai-nilai di kehidupan sosial, bukan terletak pada tanda kelulusan berupa Ijazah”?

Kalau kita punya perusahaan dan ingin merekrut karyawan atau bekerjasama dengan seseorang, apakah akan memilih anak dengan nilai A di sekolah atau lebih tertarik dengan sosok seperti Raissa yang di usia yang sangat muda punya filosofi hidup yang sedemikan dalam?

Sekali lagi, terima kasih, dek Raissa Kanaya, kamu berhasil membuat saya malu. Langkahmu seperti menampar muka saya, seseorang yang hanya berani gelisah tetapi tak pernyah punya kesanggupan untuk melawan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here