Covid-19, Memperjelas Garis Batas Waspada dengan Panik

sumber: auburnexaminer.com/
sumber: auburnexaminer.com/

Tanggal 14 April 2016, Kota Kumamoto, Jepang diguncang gempa 6,4 SR. Dua hari kemudian, kota itu dihantam lagi dengan gempa yang lebih dahsyat, 7 SR serta ratusan gempa susulan selepasnya.

Tepat tengah malam gempa hebat itu terjadi, ribuan orang keluar dari rumah dan kemudian menuju sebuah lapangan yang cukup luas. Sampai menjelang subuh, gempa susulan terus berlangsung setiap 10 hingga 15 menit. Hampir subuh, gempa sudah mulai  mereda kekuatannya dan juga berkurang frekuensinya.

Ribuan orang yang ada di lapangan olahraga Komamoto University itu lantas dipersilahkan masuk ke sebuah gedung olah raga yang cukup luas. Wajah-wajah cemas dan tegang, ada tangis dan juga ada beberapa orang mengalami luka ringan.  Saya melihat sendiri semua kejadian itu, sebab saya dan keluarga termasuk dari orang-orang yang mengungsi di shelter tersebut.

Pada kondisi krisis, kepanikan adalah seuatu yang lazim terjadi. Meminta mereka tidak panik juga wajar dan mungkin pada kondisi tertentu statusnya adalah harus, akan tetapi yang memberikan imbauan juga wajib memiliki kebesaran hati  jika ternyata tetap ada yang gusar dan panik.

Setiap orang memiliki tingkat kesiapan tersendiri saat menghadapi tekanan. Baik secara psikologis dan lain sebagainya. Ada seseorang warga negara Indonesia yang tidak bisa tidur nyenyak sejak gempa tersebut, setiap ada gempa susulan yang kekuatannya sangat kecil sekalipun, dia langsung terbangun dan seperti ingin berlari. Wajahnya pucat ketakutan. Menangani orang dengan tipe seperti ini tentu tidak bisa hanya dengan mengatakan kepadanya: “jangan panik.”

Kepanikan yang cukup terasa saat itu hanya terjadi pada hari pertama dan kedua saja. Setelahnya, sebagian besar pengungsi sudah terlihat lebih rileks, terutama yang warga lokal.

Berdasarkan amatan sederhana saya, ada tiga hal yang sepertinya membuat para korban gempa ini terlihat tenang dan jauh dari kesan panik. Pertama, hampir semua orang memahami tentang bencana yang mereka tengah hadapi. Warga Jepang tahu betul apa itu gempa dan bagaimana harus bertindak ketika ada gempa.  Hal ini hampir dipastikan karena sosialisai mengenai gempa telah mereka dapat semenjak mereka bersekolah.

Pemahaman yang komperhensif mengenai bencana yang mereka hadapi ini juga menjadi benteng paling ampuh untuk menangkal berita-berita bohong atau hoax. Sebab secara naluriah, mereka akan sulit mempercayai informasi yang keluar dari pemahaman mereka mengenai gempa.

Kedua, keterbukaan informasi.  Transparansi membuat warga jadi bisa memahami situasi yang sebenarnya, sehingga mereka bisa bertindak secara terukur. Data mengenai korban, wilayah terdampak, akses transportasi dan lain sebagainya bisa mereka dapat secara berkala.

Ketiga, kepercayaan warga pada otoritas yang bertanggung jawab  terhadap penanganan bencana. Ada semacam keyakinan yang cukup kuat bahwa mereka tak akan ditelantarkan oleh negaranya. Pemerintah setempat diyakini telah memiliki strategi yang bagus untuk menyelesaikan segala permasalahan.

Lantas seperti apa dengan COVID-19, virus corona yang telah menggelisahkan banyak orang di seluruh penjuru dunia? Bagaimana orang Indonesia menghadapi ini?

Seperti yang diungkap di atas, bahwa pada kondisi krisis, kepanikan adalah sesuatu yang wajar. Memberikan imbauan untuk tidak panik juga sesuatu yang tidak bisa dibilang salah. Akan tetapi belakangan ini, ada fenomena yang sepertinya malah kontra-produktif terhadap upaya membuat warga tidak panik.

Secara umum, ada kegagalan dalam memberikan batasan waspada dengan panik.  Saat ada yang membeli persediaan kebutuhan cukup banyak di supermarket, dituduh sebagai bentuk kepanikan. Saat ada yang pejabat memberikan imbauan untuk berhati-hati, dianggap tindakannya itu memicu kepanikan publik. Padahal, kalau dari sudut pandang yang memborong di supermarket atau pejabat yang memberikan imbauan, pasti mereka berdalih bahwa apa yang dilakukannya adalah tindakan preventif.

Diskusi publik lantas banyak mengenai ini. Energi terkuras pada perdebatan mengenai hal-hal yang sebenarnya kurang substansial. Bahkan tidak jarang pendapat-pendapat yang menyebar tergrafitasi pada sentimen politik tertentu, akhirnya semakin jauh dari inti masalah, yakni corona.

Pedebatan tersebut juga menyita ruang-ruang sosialisasi perihal virus yang sedang akan dihadapi. Pemahaman mengenai corona ini tidak lengkap sampai ke warga hingga akhirnya mudah sekali hoax masuk dan menyebar.

Informasi mengenai perkembangan wabah  ini juga begitu samar yang membuat banyak asumsi-asumsi liar lahir dari kegelisahan warga.

Kondisi sosio-politik kita saat ini agak sulit bisa mendapatkan tiga hal di atas. Maka, sebagai pribadi, minimal ada satu faktor yang diambil dan dipelajari secara detail. Hal yang paling memungkinkan adalah mengenai pemahaman terhadap virus ini. Mari sama-sama mempelajari secara holistik tentang COVID-19 dan penuhi ruang-ruang diskusi kita perihal itu.

Modal pemahaman itu yang bisa mengurangi kecemasan dan kepanikan. Menghilangkan kecemasan adalah sesuatu yang cukup krusial, sebab rasa cemas bisa menurunkan daya tahan tubuh.

Sebuah penelitian dari Ohio State University’s Institute for Behavioural Medicine Research (IBMR) menyebutkan jika kecemasan bisa mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dengan mengganggu sistem komunikasi sistem saraf, endokrin (hormon) sistem, sistem kekebalan tubuh. Mari membangun benteng diri dengan menjaga kesehatan dan tetap waspada secara terukur tanpa harus panik. Semoga kita semua bisa melewati masalah ini dengan baik. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here