Kang Juman dan Pemuda Wangi

“Sampyan ini pakainnya rapi, baunya wangi, kok ngopinya di warung ini?” tanya Kang Juman pada pemuda berkemeja biru dan rambutya klimis. “Cak Supri, warung sampyan ini sebentar lagi jadi starbak, sudah ada pembeli kelas elit,” canda Kang Juman pada pemilik warung tanpa menunggu jawaban anak muda.

Pemuda itu hanya menjawab dengan senyuman sembari mengambil posisi duduk di samping Kang Juman. “Kopi Pahit, Pak” katanya pada Cak Supri, gesturnya menunjukkan ada rasa canggung.

“Belum pernah pesan kopi di warung pinggiran begini, ya?” Kang Juman kembali bertanya dan kembali dijawab dengan senyuman, kali ini gigi pemuda itu sedikit terlihat.

“Mobil saya mogok, pak, di ujung jalan sana,” si pemuda menjelaskan. “Ini lagi nunggu montir, sekalian ngopi di sini,” lanjutnya.

“Kerja sampyan ini apa? Masih muda, tetapi sudah terlihat sukses begini.” Kang Juman kembali melempar pertanyaan.

“Saya ini aktuaris,”

Kang Juman mengerutkan dahi, bola matanya bergulir ke arah Cak Sutris yang tengah mengaduk kopi pesanan sang pemuda. Cak Sutris mengakat kedua bahunya.

“Dulu saya sekolah di jurusan Aktuaria dan sekarang jadi aktuaris,”

“Aquarium? Sekolah pelihara ikan?” tanya Kang Juman dengan muka polos.

“Aktuaris adalah seorang ahli yang dapat mengaplikasikan teori matematika, probabilita dan statistika, serta ilmu ekonomi dan keuangan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan aktual pada sebuah bisnis khususnya yang berhubungan dengan risiko. Masalah bisnis tersebut dihubungkan dengan peristiwa yang terjadi di masa depan, kemungkinan peristiwa tersebut terjadi, kapan peristiwa tersebut akan terjadi dan berapa jumlah dana yang perlu disisihkan untuk mengatasi biaya yang muncul jika peristiwa tersebut terjadi,” terang pemuda.

Cak Sutris menyerahkan kopi yang disedunya kepada pemuda ganteng sembari menggosok-gosok hidungnya. Lubang hidungnya kerap gatal jika dalam keadaan bingung. Ia menatap Kang Juman yang juga melongo setelah mendengar penjelasan mengenai aktuaria yang dikiranya pembuat aquarium.

“Meledak kepalaku, mas. Bahasamu njelimet kayak rambut Cak Sutris yang tak pernah disisir sejak lebaran tahun lalu,” gumam Kang Juman.

“Bukan njelimet, memang begitu penjelasannya, Pak. Bapak-bapak harus membuka wawasan agar bisa memahaminya,”

“Mereka memang goblok, Mas Aktuaris,” suara dengan nada berat terdengar dari salah satu sudut warung. Sang Aktuaris, Kang Juman dan Cak Sutris kompak menoleh ke arah sumber suara. Kang Slamet sejak awal terlihat tidur, ternyata memperhatikan obrolan tersebut.

“Setidaknya ada dua jenis orang goblok di muka bumi ini. Jenis pertama adalah orang seperti Juman dan Sutris ini. Mereka adalah orang yang tidak tahu, namun dirinya menyadari bahwa dirinya tidak tahu. Tapi mereka masih lumayan dibandingkan dengan jenis kedua,” Kang Slamet meneruskan kata-katanya sembari membenarkan tempat posisi duduknya.

“Iya, aku mengakui kalo aku ini goblok,” sahut Kang Juman. Cak Sutris hanya tersenyum, ia tahu benar siapa Kang Slamet, pelanggan setianya.

“Jenis kedua?” tanya Cak Sutris.

“Seperti Mas Aktuaris itu?”

“Jangan ngawur sampeyan, Kang!” sergah Kang Juman. “Pemuda ini sekolahnya tinggi, di aquarium,” sambungnya.

Pemuda itu memasang wajah waspada, ia menanti penjelasan dari lelaki tua tersebut.

“Jenis kedua adalah orang yang tidak tahu jika dirinya tidak tahu. Mas Aktuaris ini tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu apa-apa mengenai cara berkomunikasi dengan kaum warung kopi pinggiran.”

Cak Sutris menggaruk hidungnya, Kang Juman clingak-clinguk dan pemuda itu mulai sedikit merundukkan kepalanya.

“Mas, sekolahmu sudah sedemikian tinggi, tetapi kurang senam, kurang peregangan. Punggungmu kaku hingga tak bisa merunduk dan berbicara dengan mereka-mereka ini. Sementara Juman terbiasa diinjak, ditekan, maka ia menggali hingga punya kedalaman kesadaran hati bahwa dirinya tak pintar,” Kang Slamet lanjut berceloteh.

“Ini bukan meja seminar para kauh cendikia. Ini meja warung kopi tempat makhluk semacam Juman ini menghilangkan pening. Jangan seret mereka pakai standar intelektualmu, mestinya kamu yang menyamakan frekuensi dengan mereka.”

“Iya, bapak benar. Bapak menang,” kata pemuda itu.

“Loh, aku ngomong karena merasa benar, tetapi tak pernah sekalipun terbesit bahwa yang tak sama denganku itu mutlak salah. Jika mau berargumen, silahkan, kita diskusi untuk saling belajar.”

“Hidup bukan melulu untuk kalah menang, mas. Apalagi ini diskusi. Apa hidupmu penuh kompetisi hingga apapun saja, bahkan saat diskusi, kau ukur dengan menang dan kalah? Hehehe..” tutup Kang Slamet

Kang Juman ikut tertawa pelan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here