Dibalik #1Hari1Gambar

Sejak kecil, saya merasa jika hanya saya yang tidak memiliki kemampuan berkesenian. Ketiga kakak hampir semua bisa menggambar, bahkan ada yang melukis. Bapak juga cukup bagus ketika menggambar, ibu mahir melukis wajah seseorang, perias pengantin. Semua saudara, seingat saya, bisa main alat musik, sementara saya belajar bermain gitar pun gagal total.

Waktu memasuki akhir SMA, seperti baru menemukan kesukaan saya dalam berkesenian, yakni puisi, menulis. Diam-diam menulis, meski tak pernah terekspos kemanapun, sebab tak pernah saya tunjukkan kepada siapapun sampai tulisan-tulisan itu entah kemana, kemungkinan besar larinya ke tong sampah. Hasilnya? Saya bisa menulis tetapi berkualitas tak bagus. Namun cukup puas, minimal bisa menjawab keraguan diri sejak kecil mengenai kemampuan saya dalam seni.

Hingga pada masa liburan karena pandemi, anak saya yang masih kelas dua SD tiba-tiba tertarik untuk mencoba menggambar secara digital. Ini problem besar. Siapa yang mengajari dia? Pandemi, tentu tak bisa ikut les, saya sendiri tak memiliki pengetahuan apapun mengenai menggambar, apalagi ini digital.

Akhirnya kita berdua mantengin tutorial Youtube. Saya juga harus praktik agar tetap bisa menjawab apa yang ditanya oleh bocah ini, beberapa hal tidak bisa dia cerna dari bahasa yang diampaikan oleh “gurunya” di Youtube. Saya menangkap ini sebagai sebuah memontum untuk mengasah diri.

Teringat  waktu pertama kali belajar menulis adalah dengan menantang diri sendiri, dalam sehari harus menulis, minimal satu karya. Entah hasilnya baik atau buruk, yang penting tiap hari mesti berproses. Pengalaman tersebut yang mengantarkan saya untuk berkomitmen untuk belajar menggambar, #1hari1gambar.

Saya memilih belajar menggambar wajah seseorang menggunakan Adobe Ilustrator. Menggambar siapa? Ini juga perlu diskusi dengan diri sendiri lagi. Ada keinginan untuk menyenangkan teman, tetapi juga terbentur oleh rasa percaya diri yang minim. Khawatir teman kecewa jika hasilnya sangat buruk.

Bertemu titik keseimbangannya, bahwa kekecewaan itu berbanding lurus dengan harapan. Biar mereka tidak kecewa, maka jangan memberikan harapan. Caranya? Saya tidak memberitahu mereka jika tengah menggambar wajahnya. Setelah jadi baru saya kirim hasilnya, “Mohon ijin menggambar wajah sampyan”. Minta ijin setelah digambar. Heheheheee…

Hal itu yang mendasari saya tidak menerima request.  Dalam sebulan menjalani #1hari1gambar, mungkin tidak lebih dari 4 karya yang berdasarkan request. Hampir semuanya berbentuk kejutan, sebab saya memilihnya juga secara random di daftar teman Facebook.

Radom, sebab saya sendiri tidak ingin menggambar karena ada tendensi apapun. Tidak karena uang, sebab ingin berterima kasih, karena rasa tidak enak ataupun karena hal-hal lain yang membebani diri. Itu sebabnya saya menolak juga saat ada teman yang meminta menggambar beberapa orang yang saya segani. Menggambar secara lepas saja, jikapun ada pamrih, hanya sedikit ingin membuat kejutan kepada yang saya pakai fotonya untuk belajar. Dua hingga empat jam menggambar tanpa mikir akan mendapatkan apa itu ternyata menyenangkan.

Apakah saya puas dengan gambar-gambar dalam sebulan ini? Tentu saja tidak. Beberapa kali gagal eksekusi dan bahkan ada yang tidak  dipublish lantaran cukup malu dengan hasil akhirnya. Buruk sangat. Tapi tidak juga berkecil hati, untuk ukuran seseorang yang sebelumnya tidak mengerti apa-apa dalam dunia menggambar, lantas dalam sebulan bisa membuat puluhan gambar, itu cukup bagi saya. Lagi-lagi ini mengugurkan anggapan jika saya satu-satunya anak dalam keluarga yang tidak bisa menggambar.

Terima kasih kepada teman-teman yang bersedia fotonya saya pinjam untuk jadi bahan latihan menggambar, maaf jika hasilnya malah bikin tidak menarik dibanding wajah aslinya. Maaf juga kepada teman-teman yang telah meminta untuk digambarkan, tetapi saya tidak punya kemampuan untuk membuat kalian jadi makin kecewa.

Setelah ini, entah saya akan meneruskan untuk terus menggambar atau tidak.

Oh, ya. Terima kasih juga buat Youtube yang menyediakan tutorialnya tanpa harus membayar, Gratis…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here