Peradaban Baru, Segera Berubah

Covid-19 ini efeknya menjamah hampir semua lini kehidupan. Hampir semua hal harus menyesuaikan diri, hingga muncul idiom: berubah atau punah.

Salah satu hal yang terpukul cukup telak adalah kegiatan ekonomi. Beberapa sektor usaha harus mengurangi beban untuk bisa bertahan, tidak sedikit yang harus gulung tikar. Bangkrut.

Pada situasi semacam ini, siapa yang cepat beradaptasi, dia yang punya peluang lebih besar untuk selamat. Siapa yang sigap untuk segera mencari arah membanting stir, dia yang punya kesempatan bisa bertahan. Bahkan mungkin tidak sekedar bertahan, tetapi menjadi yang terdepan.

Teman saya, seorang fotografer, saat awal pandemi ini meminta pendapat saya. Saran saya saat itu, segera bikin inovasi dalam memberikan jasa memotret atau secepat mungkin banting setir ke usaha lain yang kamu ketahui. Untuk inovasi, saya sarankan untuk membuat studio foto outdoor dan memberikan garansi kepada customer mengenai protokol kesehatan yang ketat saat berfoto di tempatnya. Untuk banting setir saya tidak bisa banyak memberika saran karena tak tahu dia punya kemampuan di mana. Saya sekedar menekankan tentang kesegeraan. Secepatnya!. Alhamdulillah, seminggu kemudian dia memberikan informasi jika dirinya jualan sambel pecel dan omsetnya cukup lumayan. Katanya bisa lebih banyak dibandingkan saat menjadi fotografer.

Itu adalah salah satu contoh kontrit tentang kesadaran untuk segera berubah dan berbenah agar tidak ikut punah dalam terpaan gelombang covid-19 yang makin dahsyat ini.

Roda ekonomi harus tetap jalan, meskipun banyak halangan. Pandemi macam ini tentu membatasi ruang gerak fisik kita, ini yang kemudian menjadikan banyak orang putus asa. Padahal situasi ini juga membuka lebar jalan lainnya: dunia online.

Covid-19 ini seperti simulasi atas peradaban baru, bahwa siap atau tidak siap, kita harus segera memasuki dunia lain yang banyak hal berubah. Bekerja dari rumah, jualan tanpa harus sewa toko di pasar atau mall dan lain sebagainya. Harus diakui jika kita selama ini cukup lambat menyesuaikan diri pada peradaban internet ini, padahal di beberapa negara sudah banyak yang mepraktikkan, bahkan “digital nomad” itu sudah populer dalam beberapa tahun belakangan ini. Digital nomad itu secara sederhana diartikan sebagai pekerjaan yang dilakukan dimana saja tanpa harus berkantor.

Banyak hal dalam beberapa tahun kedepan akan bergantung pada internet. Kuota internet menjadi kebutuhan pokok tiap keluarga, sebab banyak pekerjaan dan kegiatan ekonomi melalui jalur itu.

Perdagangan barang dan jasa sebagian besar akan bertransaksi lewat internet, termasuk saat  bertransaksi dengan tetangga sendiri. Itu sebuah keniscayaan teknologi dan juga situasi saat ini yang memang membatasi pergerakan fisik kita.

Sehingga, pemahaman kita mengenai transaksi dunia online bisa dibilang mutlak harus kita pahami. Sesegera mungkin. Iya, secepatnya agar tidak tertinggal, sebab persaingan dan perubahan di dunia internet juga secepat kilat. Sesegera mungkin beradaptasi, artinya kesempatan untuk bisa beradaptasi juga makin lebar.

Selama ini ada beberapa mitos yang beredar di masyarakat yang membuat mereka enggan untuk masuk ke dunia online. Pertama, karena saat itu mereka sudah nyaman dengan yang telah mejadi aktivitasnya. Sudah enak berjualan di pasar, nyaman bekerja di kantor  dan lain sebagainya. Tetapi pandemi saat ini meruntuhkan kenyamanan itu.

Kedua, banyak yang mengira internet adalah dunia lain yang rumit dan njelimet. Benarkan demikian? Bisa iya, bisa juga tidak. Tergantung seberapa mau kita belajar, tetapi satu hal yang pasti adalah: para pengembang aplikasi di internet itu telah mendesain apapun menjadi sesederhana mungkin, hingga orang paling awam pun bisa mengoperasikannya. Apakah WA itu rumit? Tidak bukan?

Ketiga, online dianggap semu dan tidak pasti. Banyak para pedagang yang punya pengalaman buruk saat memulai usaha online. Pelanggan yang cenderung lebih rewel, pesanan yang dicancel dan lain-lain.

Transaksi online memang membuka peluang terjadinya hal-hal semacam itu. Akan tetapi, bukannya berdagang secara offline juga ada peluang demikian? Offline maupun online selalu punya resiko masing-masing. Jadi semuanya akan sama saja. Ini tentang bagaimana kita mengantisipasinya.

Bagaimana memulai berjualan secara online?

Berjualan barang atau jasa di internet sejatinya sama saja dengan yang konvensional.  Secara teori berdadang, semuanya hampir sama. Sediakan barang/jasa dan mulai memasarkannya.

Perbedaannya mungkin pada hal-hal teknisnya. Tentang kita memilih pakai platform apa dan bagaimana cara memasarkannya.

Soal platform yang dipilih, ini sesuatu yang bebas. Mana yang membuat kita nyaman dan kuasai. Bisa pakai marketplace seperti Shopee, Tokopedia, Bukalapak dan sejenisnya, bisa juga menggunakan media sosial seperti Facebook, Instagram dan bahkan WA.

Sedangkan mengenai bagaimana cara memasarkannya, ini yang agak berbeda dengan cara berjualan konvensional. Ini akan banyak sekali cara dan metode dalam digital marketing. Mulai dari gratisan hingga yang bebayar. Mulai dari yang hanya posting-posting foto hingga yang memakai jasa buzzer.

Bersambung, sebab sudah bedug maghrib…..

Tulisan ini untuk #LumbungSahabat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here