Untuk Sekolah Anakku

Covid-19 sudah menggeser banyak hal dalam kehidupan kita, tak terkecuali dalam proses pendidikan anak-anak kita. Ini bukan posisi kita memilih, namun kita seolah dipaksa untuk beradaptasi pada sebuah atmosfer kehidupan yang baru.

Awal-awal wabah Corona ini mengegerkan publik Indonesia dan membuat sekolah diliburkan, saya langsung mengerutkan dahi melihat pengumuman diliburkannya sekolah. Disebutkan jika sekolah diliburkan 14 hari. 14 Hari? Ini dasar pemikirannya apa sehingga memilih angka 14? 14 hari adalah masa inkubasi virus di tubuh, sehingga punya asumsi libur dua minggu adalah sesuatu yang paling relevan dengan isu yang ada?

Kala itu saya berkesimpulan jika kebijakan tersebut  adalah bentuk kegagapan, karena hampir mustahil pandemi bisa sirna dengan 14 hari.  Semua  panik sehingga cukup wajar mengambil keputusan dengan segera dengan pertimbangan yang belum matang penuh. Salah? Tentu saja tidak. Wajar jika gagap menghadapi ini semua.

Saya sekedar khawatir jika cara berpikirnya sependek itu, hanya 14 hari libur, maka bangunan strategi untuk pendidikan anak-anak juga akan skala pendek. Kadar khawatir saya makin bertambah saat mengetahui metode belajar yang diberikan kepada anak saya. Sekolah memberikan tugas-tugas, mengirimkan  lembaran pertanyaan dan kemudian dikumpulkan. Tugas-tugas itu materinya diambil dari buku paket yang sudah ada. Waduh!

Dunia online ini memang menjadi jawaban atas banyak hal dalam menghadapi pandemi. Banyak karyawan kantor yang bekerja di rumah dengan internet, seminar-seminar dilakukan secara online dan lain sebagainya, termasuk sekolah. Namun apakah untuk sekolah anak-anak ini yang dimaksud belajar online adalah “hanya” mengubah jalur penyampaian materi dan pengerjaan tugas yang biasanya secara tatap muka langsung kini menjadi online internet?

Jika libur hanya 14 hari, maka itu bisa dimaklumi belajar di rumah diterjemahkan dengan mengganti cara penyampaian materi belajar melalui Zoom, Whatsapp dan sejenisnya, tetapi ini pandemi yang pasti akan panjang perjalanannya. Bangunan strateginya mestinya jauh lebih matang, ini sebabnya saya mengerutkan dahi saat pertama kali mendengar sekolah diliburkan 14 hari.

Wabah ini memberikan efek ke segala lini kehidupan kita semua, termasuk anak-anak. Bahkan sejak awal saya mengatakan jika pihak yang pertama kali terpukul oleh Covid-19 adalah anak-anak, karena ritme hidup mereka seketika berubah. Orang tua awal-awal pandemi malah mungkin gak berubah jam kantornya, belum bergeser laju ekonomi usahanya, tetapi anak-anak langsung merasakan pada saat itu juga. Mereka harus di rumah, tak boleh keluar, tiba-tiba harus belajar dengan orang tua yang “kualitas” mengajarnya berbeda dengan gurunya di sekolah dan lain sebagainya.

Anak-anak mengalami benturan-benturan dengan keadaan, maka tidak layak kemudian pendidikan mereka yang digeser hanya metode penyampainnya saja, menjadi online. Banyak hal, terutama materi dan metode penyampainnya yang dikalibrasi ulang dengan memperhatikan  kondisi psikologis anak, kemampuan orang tua dan lain sebagainya.

Minggu-minggu awal libur, anak saya bersedia mengerjakan lembar kerja dari sekolahnya dengan tertib, namun setelahnya mulai goyah. Saya menyadari ini sebagai masalah, anak saya terkurung di rumah berminggu-minggu, tentu tidak bisa terus-terusan saya paksakan untuk mengerjakan tugas sekolah. Ada kebosanan, stress dan tekanan psikologis lainnya. “Silahkan kerjakan jika memang mau mengerjakan tugas itu, jika tidak juga tak masalah, asal kamu punya kegiatan lain yang menyenangkanmu,” begitu pesan saya kepada Nahla, anak saya.

Alhamdulillah, dengan enggannya Nahla menyelesaikan tugas sekolah dia menemukan kegiatan baru, menggambar. Meskipun belum membuat karya yang baik dan masih banyak yang harus dipoles, namun bagi saya, untuk anak usia delapan tahun dan tanpa guru resmi, karyanya sudah lebih dari cukup.

…Ketika mendapat tugas membuat buku cerita, anakku ngotot jika sudah bilang gurunya jika tugasnya bisa diganti dengan membuat video animasi. Maka jadilah video ini…

Posted by Lazuardi 'yoan' Ansori on Saturday, 20 June 2020

Beruntung pihak sekolah sepertinya telah menggeser metode belajarnya, seingat saya, mulai awal puasa sudah tidak ada lembar-lembar tugas itu. Apalagi akhir-akhir tahun ajaran ini, tugasnya adalah proyek-proyek tertentu, seperti berkebun dan membuat buku cerita. Hati saya plong.

Melihat pergeseran di sekolah anak saya itu, saya percaya sekolah tempat anak saya belajar sudah memikirkan  strategi menghadapi ini sebagai sebuah “perang panjang”, ini lari marathon bukan sprint. Tentu berbeda cara berlari untuk marathon dengan sprint 100 meter.

Sekali lagi, sekolah menurut pandang saya mesti mengkalibrasi ulang materi dan cara belajar anak didik. Segera menemukan formula pendidikan yang tepat dalam “revolusi peradaban” ini. Orang tua? Pandemi ini semoga menjadi pengingat para orang tua, bahwa pendidikan anak itu tidak diterjemahkan secara mutlak sebagai sekolah formal, pendidikan anak itu juga berada di zona keluarga. Maka mari sama-sama berjuang mencari racikan formula yang terbaik untuk pendidikan anak-anak kita. Dalam pandemi, ada ungkapan “kita berubah atau punah”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here