Orang Bijak dan Istrinya yang Banting Piring

Tiba-tiba ada yang parkir di depan rumah siang ini, sulit saya mengenalinya. Pakai masker dan menggunakan motor yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. Beberapa detik kemudian baru saya bisa kenali dari kacamata tebal yang dikenakannya. Tumben, dia ke rumah tanpa kasih kabar sebelumnya.

Kubikinkan kopi dan nongkrong di teras rumah. Selanjutnya cerita mengalir, dia bicara tentang dirinya yang sempat “dibawa” oleh yang memang punya kekuasaan untuk membawanya. Kasus demonstrasi.

Dia tak menampik jika sempat ketakutan, terutawa awal-awal diinterogasi. Merasa  tersudut saat mereka menduga dia terlibat dalam pengerusakan. Hingga akhirnya suasana tidak menegang setelah dia mampu berargumen atas pertanyaan-pertanyaan yang digencarkan padanya. “Apa kamu paham tentang yang kamu protes?”“Kamu setuju kericuhan yang menimbulkan kerugian?” dan banyak lagi pertanyaan lain.

Menurutnya, suasana kemudian menjadi sangat cair dan akrab. Diskusi jadi renyah hingga akhirnya dia diperbolehkan pulang.

Cerita dia pasti cukup panjang dan sangat mungkin banyak yang tak dikisahkan ke saya. Akan tetapi dari apa yang dituturkan, saya menangkap beberapa poin penting. Salah satu yang berkesan bagi saya adalah ketika dia mengaku sempat menggunakan sebuah anekdot yang pernah saya tulis di Twitter untuk memberikan penjelasan kepada yang menginterogasinya.

Bagi saya, dalam berkomunikasi, sastra punya tempat yang istimewa. Menjelaskan sesuatu bisa lebih mengena ketika menggunakan anasir-anasir sastra, bahkan sebuah argumen yang agresif sekalipun bisa dihujamkan secara halus. Kritik tajam bisa dia ungkapkan menggunakan anekdot singkat.

Namun sayangnya, belakangan ada “orang bijak” yang mengkategorikan tulisan-tulisan satire, sarkas, sanepo dan sejenisnya sebagai nyinyiran, dan bahkan dianggap provokasi. Alasannya, harus mengedepankan kesejukan.

“Ketika Jurnalime Dibungkam Sastra Harus Bicara,” begitu tulis Seno Gumira Ajidarma.

Sastra jadi semacam sejata pamungkas ketika jalan normal ditutup, mulut dibungkam dan aliran dibendung. Ketika seseorang sudah menyindir pake sanepo, satire dan sejenisnya, itu bisa diartikan karena pakai jalan normal situasinya tidak memungkinkan.  Mestinya “orang-orang bijak” itu komentari situasi yg tidak memungkinkan itu, bukannya rewelin pihak lain yang sedang berusaha cari jalan keluarkan suara.

Lelaki yang sejuk itu bukan mengomentari piring yang pecah. Suami yang bijak itu mencari akar persoalan kenapa istrinya banting piring.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here